Posted by: abuusamah88 | November 19, 2009

21 Tahun

21 Tahun*

Alhamdulillah, hari ini Allah Subhana Wa Ta’ala masih mengizinkan ruh diriku untuk bersama dengan jasadku sehingga bisa dikatakan secara jasmani diriku masih hidup. Tahun – tahun berlalu dengan cepatnya seakan berlari dan bersamaan dengan itu pula semakin dekatlah diriku dengan Sakratul Maut yang diistilahkan oleh baginda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam sebagai “sang penghancur kenikmatan”. Saat ketika ruh ini meninggalkan jasad sekaligus dunia yang fana ini untuk menuju ke kehidupan kedua berupa alam barzakh.

Seorang Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah pernah ditanya tentang ruh dan jasad manusia, apakah ruh yang mengikut jasad atau sebaliknya pada kehidupan dunia? Syaikhul Islam menjawab bahwa ruh lah yang mengendalikan jasad walaupun kehidupan dunia merupakan kehidupan bagi ruh dan jasad dan berbeda dengan kehidupan di alam barzakh yang merupakan kehidupan bagi ruh sedang jasad akan hancur terurai. Ketika ruh ini berangkat meninggalkan jasad maka seketika itu pula jasad tidak dapat berbuat apa – apa. 1 tahun berlalu dan telah semakin dekat saat dimana ruh ku kan meninggalkan jasad ini.

21 tahun usia yang cukup tua menurutku dulu. Bukankah Usamah Ibn Zaid Radhiyallahu’anhu dijadikan pimpinan pasukan untuk memerangi Syam di awal usia 20 – an sedangkan di dalam pasukannya ada Abu Bakr dan Umar Radhiyallahu’anhuma. Demikian juga banyak sahabat lain dibebankan amanah yang sedemikian besar oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam di saat memasuki usia 20 tahunan. Sebut saja Imam Ali, Mus’ab ibn Umair, Muadz Ibn Jabal dan Ja’far Ibn Abi Thalib sang pemilik 2 sayap.

Ya Islam mencontohkan bahkan menganjurkan untuk memberdayakan pemuda karena di pundak mereka lah tongkat estafet perjuangan Islam kelak akan diserahkan. Tapi diriku yang sudah memasuki usia 21 tahun ini apakah sudah mampu jika dipercayakan amanah yang berkaitan dengan umat? Secara tegas diriku akan menjawab “tidak!”. Bukan, jawaban ini bukanlah bentuk pelarian dari tanggung jawab sebagai generasi muda Islam. Itulah kondisi sesungguhnya. Bagaimanakah diriku mau diserahkan beban amanah yang kelak harus dipertanggung jawabkan dihadapan Rabbul ‘Alamin jika berbohong saja diriku masih terkadang melakukannya, belum lagi sikap menunda – nunda pekerjaan dan sikap malas yang ada di dalam diriku.

Bagaimana pula diriku bisa diserahkan beban amanah jika ilmu agama saja masih minim bahkan bisa dikatakan hampir tidak ada, padahal ilmu tersebut akan menjadi pemandu dalam membedakan antara yang baik dan buruk, antara yang Haq dan batil antara yang boleh dilakuka dan yang tidak seharusnya dilakukan oleh seorang Muslim dan seorang pengemban amanah.

Dulu ketika SMA diriku pernah berangan – angan akan menikah dan membina keluarga yang Islami di usia 21 tahun. Namun inilah diriku saat ini berusia 21 tahun. Apakah ku kan berani mewujudkan angan – angan tersebut? Sekali lagi aku kan menjawa “tidak”. Beberapa hari yang lalu diriku mendapatkan kabar yang menggembirakan dari salah satu akhwat yang berusia sama dengan diriku bahwa dirinya akan menikah pada tanggal 5 Desember ini. Subhanallah, diriku cukup kaget mendengar berita ini, walau sebelumnya akhwat lain telah mengabarkan hal ini namun tetap saja kabar ini sangat menggembirakan. Sekitar 1 tahun yang lalu salah satu ikhwan yang hanya 1 tahun lebih tua dari diriku juga melangsungkan walimahan. Ingin rasanya diri ini segera menyusul mereka, tapi apa daya diriku belum sanggup. Belum sanggup dari sisi ilmu agama adalah yang paling penting. Seorang suami akan menjadi Imam bagi keluarganya yang akan dimintakan pertanggung jawaban oleh Allah Subhana Wa Ta’ala atas amanah yang diberikan oleh Allah Subhana Wa Ta’ala berupa keluarga yang telah diperintahkan oleh Allah Subhana Wa Ta’ala untuk dijaga dari api neraka yang bahan bakarnya dari batu dan manusia.

Bagaimana diriku bisa menjaga keluarga ku dari api neraka jika diriku saja masih banyak berbuat dosa bahkan menjahr-kan dosa yang telah kuperbuat karena kebodohan diriku. Faktor kedua adalah karena faktor ekonomi. Kasarnya seperti yang diucapkan oleh Umiku ketika dulu diriku menyampaikan cita – cita untuk menikah di usia 21 tahun, “Mau kamu kasih makan apa anak dan istri mu nanti?”. Bukankah seorang suami di dalam Islam memiliki kewajiban untuk memberikan nafkah lahir dan batin terhadap keluarganya. Nafkah batin mungkin sebagian kecil telah bisa kutunaikan bersamaan dengan telah baligh nya diriku. Namun nafsu batin lainnya berupa keamanan, kestabilan emosi kita dan sebagainya serta nafkah lahir berupa tunjangan untuk pemenuhan kebutuhan sandang, pangan dan papan, apakah saat ini diriku sudah siap? Tentu saja belum.

Jadi tentu saja diriku tidak bisa mewujudkan keinginan untuk menikah di usia 21 tahun ini, disamping juga diriku masih ingin membahagiakan kedua orang tuaku yang telah banyak kuberbuat salah pada keduanya. Diriku takut jika diriku menikah terlalu cepat diriku akan disibukkan oleh urusan istri dan anakku sehingga mengabaikan mereka berdua.

Mungkin satu yang harus terwujud di usia 21 tahun ini, yaitu kuliah ku harus selesai. Skripsi ku harus segera kuselesaikan agar bisa menjadi kado pertama yang bisa kuberikan untuk kedua orangtuaku dan semoga bisa juga menjadi kado bagi Umat yang terus dilanda cobaan ini. Oleh karena itulah diriku memutuskan untuk mengambil tema mengenai wakaf sebagai salah satu bentuk filantropi Islam yang sesungguhnya modal untuk pengentasan kemiskinan dan mewujudkan keadilan sosial bagi mustadh’afin.

21 tahun hidupku telah berlalu. 21 tahun penuh pelajaran kehidupan yang sangat berharga. 21 tahun penuh kenangan di tengah keluarga yang luar biasa dan sahabat yang tidak dapat kulupakan. 21 tahun tuk belajar demi menyongsong masa depan di dunia maupun di akhirat.

Dalam 21 tahun hidupku ini kutelah banyak mengambil banyak pelajaran berharga dari banyak orang. Pelajaran yang tidak akan pernah ku dapatkan di dalam ruang kelas. Pelajaran tentang nilai – nilai agama dan hidup. Terima kasih untuk Mbah Kakung (walaupun diriku tidak pernah sempat berjumpa dengan mu tapi cerita akan keteladanan sikap mu yang kudengar tidak hanya dari keluarga tapi juga dari banyak orang yang mengenal mu menjadi pelajaran yang sangat berharga dan inspirasi bagi hidupku), Mbah Ti;  Mbah Marni (cerita – cerita mu kan selalu kukenang tuk kuambil keteladanannya); Abi dan Umi (yang perbuatan keduanya serta wejangannya kan selalu menjadi teladan bagi diriku); Bude Tri, Om Nug dan Tante Ria (Tempat berbagi cerita yang selalu menghasilkan solusi bagi permasalahan yang kuhadapi); Mas Reno dan Dek Tio (saudara kandung sekaligus teman paling luar biasa yang pernah kutemui); Bule Tati (saat – saat belajar mengaji dengan dirinya lah yang membuat diriku terus ingin belajar tentang Islam); Bu Nia, Bu Djumini, Bu Devti, Bu Marlina, Bu Sukorini, dan semua guru – guruku yang tidak hanya mengajarkan pelajaran regular saja tapi juga menjadi mengajarkan ketauladanan bagi murid – muridnya baik dalam perbuatan maupun wejangan – wejangannya; Para Asatidzah dimana diriku menimba ilmu agama dari mereka; dr Bambang Edi dan segenap ikhwan dan akhwat BSMI Yogya yang mengajarkan pada diriku arti dari berkorban dan mebela mustad’afin; para ikhwan seperjuangan, Akh Fadli, Rengga, Angga, Gilang, Meindro, Muhammad, Mas Rifa’I, Mas Toto, Kukuh, Royyan, Athaya dan ikhwan lainnya terima kasih karena masih mau dan tetap menasehati diriku walau seringkali diriku sulit untuk dinasehati.  Rani, Santi, Iqbal, Hiro, Seno, Andhika dan seluruh teman – teman ku. Terima kasih karena telah mengisi hidupku. Terima Kasih karena telah memberikan pelajaran berharga bagi diriku.

Terima Kasih Allah karena masih memberikan kesempatan bagi diriku tuk hidup di dunia ini. Ku berjanji Insya Allah tahun depan jika kau masih mengkehendaki diriku tuk hidup ku kan berusaha menjadi insane yang lebih baik dari saat ini. Insya Allah.

 

*Beberapa teman mengira milad ane tgl 19 Nov, tapi yang bener 20 Nov. Tapi Jazakallah khairan atas ucapan selamat dan doanya. Jadi masih 2 jam lagi tapi ane pos duluan biar gak tidur kemaleman jadi gak ketinggalan Jama’ah Subuh lagi.

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: