Posted by: abuusamah88 | October 30, 2008

Salafiyyah dan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

SALAFIYYAH DAN AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH

Diantara para da’I, ada yang selalu mengelak untuk memakai istilah salafiyyah dan mereka hanya terfokus dengan istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, padahal mereka mengaku beraqidah salaf.

Mereka hanya memperkenalkan sifat dakwahnya dengan sebutan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Mereka menyatakannya berkali-kali dalam muhadharah-muhadharah (ceramah-ceramah) dan majelis ilmu mereka.

Demikianlah, tatkala mereka tidak mau memakai istilah Salafiyyah, maka ini termasuk dari keagungan dan kemuliaan Allah ‘Azza Wa Jalla , agar dakwah yang haq (benar) berbeda dengan segala yang mengotorinya dan agar tersaring dari segala kerancuan dan noda-noda.

Adapun penjelasannya mengapa istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah mulai berkembang (dan muncul) adalah ketika fitnah-fitnah pada saat itu mulai berbenih bid’ah-bid’ah. Untuk itu jama’ah kaum Muslimin yang berpegang dengan sunnah terbedakan dengan yang lainnya.

Sehingga mereka dikatakan Ahlus Sunnah, sedangkan lawannya disebut Ahlul Bid’ah. Yang berpegang dengan sunnah disebut juga dengan Al Jama’ah. Istilah ini merupakan asal nama mereka, yang terpisah dari hawa nafsu dan kebid’ahan

Adapun pada masa kini, setiap kelompok dan aliran yang berbeda-beda memakai istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Anda menyaksikan banyak kelompok yang menamakan diri –meski aturan-aturan yang mereka pakai berasal dari mereka sendiri- dengan istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah

Sampai-sampai sejumlah tarekat sufi memakai istilah ini, begitu juga Asy’ariyyah, Maturidiyyah, Barlawiyyah dan yang semisalnya mengaku (dan mengatakan) : “Kamu adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah”

Bersamaan dengan itu mereka takut kalau memakai dan mensifati dakwah mereka dengan istilah salafiyyah. Mereka berusaha menjauh dari manhaj salaf, sekalipun hanya sebatas nisbah (menyandarkan) apalagi mewujudkan manhaj salaf (dalam amal perbuatan)

Oleh karena itu syi’ar Ahlus Sunnah adalah mengikuti salafush shalih dan meninggalkan segala macam kebid’ahan dan perkara-perkara yang baru (dalam agama).[1]

Barangsiapa yang mengingkari, bahkan melecehkan salaf dan tidak mau mengikutinya, maka harus dibantah dan diluruskan ucapannya

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : “Tidak ada kehinaan bagi siapa saja yang memperjuangkan mahzab salaf, menisbatkan diri kepadanya, bahkan wajib menerima yang demikian itu berdasarkan kesepakatan (para Ulama), karena sesungguhnya mahzab salaf adalah pasti benar”[2]

Saya bertanya-tanya, mengapa sebagian saudara kita terus memakai istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan mereka enggan untuk memakai istilah Salafiyyah

Kita yakin bahwa mereka berada di atas aqidah salaf. Mereka menimba kebersihan aqidah tersebut, bahkan mereka tumbuh dan berkembang di tengah-tengah keluarga dan berbagai tingkat pendidikan tersebut.

Saya katakana, mengapa mereka tidak mencukupkan saja dengan memakai kata muslimin, kalau seandainya mereka takut atau khawatir akan mengantarkan kepada perpecahan, menurut pendapat mereka?!

Apabila mereka membolehkan menisbatkan diri dengan nama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, maka tidak ada larangan jika memakai nama salafiyyah sebagai nisbat kepada salafush shalih, tabi’in dan prang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Akan tetapi saya akan katakan: “Tidak tersembunyi lagi, mengapa mereka terus menggunakan istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, karena mereka ingin menampakkan toleransi dan kelemahlembutannya kepada para penyelisih manhaj salaf serta jalannya

Hal ini bertujuan agar luas ruang lingkupnya, bersemangat untuk mewujudkan kuantitas bukan kualitas, dan mengikuti jama’ah sebelumnya hanya sebatas uji coba”

Saya telah mendengar sebagian orang yang menisbatkan dirinya kepada dakwah dan kebaikan, bahwa mereka ingin menghilangkan lambang-lambang dan penamaan-penamaan ini secara menyeluruh. Dan mereka memasukkan juga di dalamnya nama Salafiyyah dengan dalil bahwa semua nama-nama dan lambang-lambang ini akan menjurus kepada perpecahan dan kelompok-kelompok.

Keinginan dan tujuan ini di dalamnya mengandung sisi kebenaran dan kebatilan. Kita sepakat atas penghapusan setiap syiar-syiar yang diada-adakan dan mengandung kebid’ahan. Bahkan kebanyakan syiar-syiar tersebut tidak diketahui kecuali baru-baru saja, sekitar lima puluh tahunan belakangan ini dan sebagiannya bahkan tidak sampai umurnya tercatat oleh zaman (karena setelah itu hilang)

Akan tetapi syiar Salafiyyah dan Ahlus Sunnah bukan kelompok hizbiyyah (kelompok-kelompok yang menyelisihi Sunnah) dan tidak pula bergabung dengan kelompok apapun. Salafiyyah atau Ahlus Sunnah merupakan warisan pendahulu generasi pertama agama Islam ini.

Syiar Salafiyyah merupakan jalan yang paling dasar untuk memahami Islam. Tidak boleh disamakan dengan syiar-syiar yang muncul di zaman belakangan ini.

Mayoritas Ulama yang menulis dalam masalah aqidah menetapkan nama ini, diantaranya :

1. Al Hafidz Ismail At Taimi Al Asbahani, beliau adalah ulama abad kelima. Beliau mengulang-ulang penyebutan mazhab Salaf (dalam kitabnya) sampai tidak terhitung

2. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Ketika beliau melihat sebagian orang yang menyelisihi aqidah yang lurus, seperti Asy’ariyah yang menamakan diri dengan nama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, maka beliau mempergunakan nama As-Salaf untuk membedakan dengan kelompok bid’ah tersebut. Sebab, bagaimanapun juga kelompok Ahlul Bid’ah tidak mau menamakan diri dengan nama Salafiyyah

Saya telah menelaah kitab Al-Fataawa Al-Hamawiyyah dan saya telah menemukan pengulangan kata As-Salaf lebih dari tiga puluh kali. Apakah (dengan itu) Syaikhul Islam (dianggap) sebagai pemecah belah umat ataukah orang yang pendek akalnya?

Lebih aneh lagi, sebagian penuntut ilmu yang juga memuliakan Syaikhul Islam dan manhajnya, bahkan mereka banyak bersandar dengan kitab-kitab beliau, lebih mengutamakan maslahah dengan cara meninggalkan penamaan Salafiyyah dan mencukupkan diri dengan istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Karena hal ini termasuk syiar yang luas cakupannya dan ini tidak diingkari oleh seorang pun dikalangan kaum Muslimin pada saat sekarang.

Manhaj Salaf bukanlah hasil karya orang-orang zaman sekarang, akan tetapi manhaj Salaf, Ahlus Sunnah, Ahlul Hadits atau Ahlul Atsar terdapat di dalam wahyu yang diturunkan (Al Qur’an dan As Sunnah) dengan penafsiran dan pengamalan generasi yang pertama lagi utama, yaitu generasi sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in.

Termasuk salah satu perbuatan yang menyimpang dan salah satu bentuk kedzaliman adalah menyamakan manhaj Salafi dengan syiar-syiar baru dan bid’ah.

Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman :

وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ ﴿٧﴾ أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ ﴿٨﴾ وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ ﴿٩﴾

“Dan Allah telah meninggikan langit-langit dan meletakkan neraca (keadilan) supaya kalian jangan melampaui batas tentang neraca tersebut. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan (penuh) keadilan dan janganlah kalian mengurangi neraca tersebut” (QS Ar Rahmaan : 7-9)

Termasuk kekeliruan yang fatal dan pendeknya akan (seseorang), apabila manhaj Salaf dimasukkan dalam ruang lingkup syiar hizbiyyun dan kebid’ahan. Siapa saja yang mengucapkan ucapan ini, hendaklah dia bertakwa kepada Allah ‘Azza Wa Jalla, menginstropeksi diri, dan membersihnya dirinya dari hawa nafsu.

Cukuplah untuk membantah ucapan tersebut kita lontarkan kepadanya pertanyaan berikut ini:

1. Beritahukanlah kepada kami, siapakah yang mendirikan manhaj Salaf ini?

2. Kapan manhaj Salaf didirikan?

3. Apakah anda berani mengatakan bahwa manhaj Salaf adalah sebuah manhaj yang mengandung di dalamnya kesalahan-kesalahan, sebagaimana keadaannya manhaj bid’ah?

Bertakwalah wahai Muslim;

Janganlah engkau terpengaruh untuk menentang dan sombong dihadapan al-haq (kebenaran) serta menolaknya dan engkau memalsukan hakikat-hakikat yang kokoh. Ketahuilah bahwa manhaj Salaf tidak didirikan oleh si fulan sepanjang zaman. Akan tetapi, manhaj Salaf adalah aqidah yang murni, syari’at yang kokoh, pengajaran-pengajaran Ilahiyyah yang telah diwahyukan oleh Allah ‘Azza Wa Jalla kepada Rasul-Nya Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salam.

Manhaj ini telah diperaktekkan oleh beliau bersama para sahabat beliau dan diikuti oleh orang-orang yang mengikutinya dalam kebaikan sehingga menjadi hujjah yang terang dan jalan yang jelas, yang malamnya seperti siangnya.

Tidak ada seorang pun yang menyeleweng darinya kecuali binasa. Tidak ada seorang pun yang membencinya kecuali akan menjadi hina, sehingga sebagaimana yang telah diancamkan oleh Allah di dalam Al Qur’an dengan firman-Nya:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا ﴿١١٥﴾

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas baginya kebenaran dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali” (QS An Nisa’ : 115)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

“Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat sekalipun (yang memimpin kalian) adalah seorang budak Habasyi. Maka barangsiapa yang hidup dari kalian (di masa) itu dia akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Maka hendaklah kalian berpegang dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafa’ Ar-Rasyidin yang telah mendapat petunjuk setelahku. Barpegang teguhlah dengannya dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara yang baru (dalam masalah agama), karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat.” Dalam riwayat lain ada tambahan: “Dan setiap kesesatan tempatnya dalam neraka”[3]

Syaikh Al-Allamah Bakr Abu Zaid berkata di dalam kitab beliau: Hukmul Intima’ hal. 30 dan halaman berikutnya:

“Kaum Muslimin dari kalangan para sahabat sebelum munculnya benih-benih perselisihan dan perpecahan tidak memiliki nama untuk membedakan mereka. Kemudia setelah itu muncul kelompok-kelompok sesat yang dihumpun dalam lafadz ahlul ahwa-Dinamakan demikian karena mereka dikuasai hawa nafsu- dan dihimpun dalam lafadz ahlul bida’-hal ini dikarenakan mereka mengikuti apa yang bukan dari agama- serta tercakup dalam lafadz ahlu syubhat-karena mereka menyamarkan perkara kebenaran dengan kebatilan-

Ketika muncul kelompok-kelompok tersebut, yang menisbatkan dirinya kepada Islam tetapi sebenarnya terpisah dari tulang punggung kaum Muslimin, maka muncullah penamaan untuk merekaa (para shahabat dan para pengikutnya) yang syar’I dengan nama Ahlus Sunnah wal Jama’ah

Hal ini dalam rangka untuk membedakan mereka sebagai jama’ah kaum Muslimin (yang konsisten dengan As Sunnah) yang bertujuan untuk menghancurkan kelompok-kelompok sesat dan pengekor-pengekor hawa nafsu tersebut.

Penamaan ini berasal dari syari’at (Allah ‘Azza Wa Jalla) begitu pula dengan nama Al-Jama’ah, Jama’atul Muslimin, Al-Firqatun Najiyyah (kelompok yang selamat), dan Ath-Thaifah Al-Manshurah (golongan yang ditolong).

Dinamakan seperti ini, dikarenakan mereka konsisten berpegang dengan sunnah dihadapan ahlul bid’ah. Oleh sebab itulah maka terjadi ikatan dengan generasi pertama umat ini sehingga mereka disebut juga: As-Salaf, Ahlul Hadits, Ahlul Atsar (Kelompok yang mengikuti atsar) dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah

Nama-nama yang mulia ini telah menyelisihi (dan membedakan diri) dengan nama kelompok-kelompok sempalan apapun juga. Ini dapat dilihat dari beberapa sisi:

Pertama:

Penyandaran ini tidak terpisah sesaat pun dari umat Islam, dikarenakan pembentukkannya di atas manhaj Nabawi. Nama ini mencakup seluruh kaum Muslimin yang berada di atas jalan generasi yang pertama dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam pengambilan ilmu, memahaminya, dan berdakwah kepadanya.

Tidak terbatas dengan peredaran sejarah tertentu, akan tetapi wajib dipahami bahwa perjalanannya terus berlangsung sepanjang kehidupan dan selama Firqatun Najiyyah yang berada dalam barisan Ahlul Hadits dan Sunnah. Merekalah pemilik manhaj ini, dan terus ada sampai datangnya hari kiamat. Sebagaimana hal ini terdapat di dalam sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam:

‘Terus-menerus (akan ada) sekelompok dari umatku tertolong di atas kebenaran, tidak akan memudharatkannya siapa saja yang menyelisihi dan merendahkan mereka’[4]

Kedua:

Semua nama-nama ini mencakup Islam seluruhnya, karena Islam adalah Al Qur’an dan As Sunnah. Mereka tidak memakai nama khusus yang menyelisihi, menambahi atau mengurangi dari apa yang ada di dalam Al Qur’an dan As Sunnah.

Ketiga:

Semua nama-nama ini diantaranya ada yang terambil dari sunnah yang shahih dan diantaranya tidak dipakai kecuali dalam rangka menghadapi manhaj-manhaj ahli hawa nafsu dan kelompok-kelompok sesat. Hal ini dalam rangka untuk membantah mereka, membedakan diri dengan mereka, menjauhkan diri dari bergaul bersama mereka dan bersikap keras terhadap mereka.

Ini disebabkan munculnya bid’ah mereka yang berbeda dengan istilah As Sunnah. Diantaranya ketika mereka menjadikan hasil pemikirannya sebagai hakim, ketika mereka berbeda dengan istilah Al-Hadits serta Al-Atsar dan ketika bertebaran kebid’ahan-kebid’ahan serta hawa nafsu-hawa nafsu mereka telah berbeda dengan istilah Salaf.

Keempat:

Meletakkan Al-Wala’ (loyalitas), Al-Bara’ (berlepas diri), Al-Mu’awanat (Pembelaan), dan Al-Mua’adat (Permusuhan) di atas Islam bukan selainnya, tidak di atas satu lambang tertentu atau lambang yang telah ada, akan tetapi di atas Al Qur’an dan As Sunnah semata.

Kelima:

Nama-nama ini tidak menggiring mereka ke dalam lingkaran fanatisme kepada individu tertentu, kecuali hanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam. Para pengikut kebenenaran dan As Sunnah tidak memiliki contoh kecuali (hanya mencontoh) Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam yang ucapannya bukan berasal dari hawa nafsunya, akan tetapi dengan wahyu yang telah diturunkan kepadanya. Beliaulah yang wajib kita benarkan terhadap segala apa yang diberitakannya dan mentaati apa saja yang diperintahkannya.

Hal ini tidak dimiliki oleh selain beliau, bahkan setiap orang bisa saja diambil dan ditinggalkan ucapannya kecuali Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam. Maka jelaslah semuanya, bahwa orang yang pantas menjadi Al-Firqatun Najiyyah (Kelompok yang selamat) adalah Ahlul Hadits dan Ahlus Sunnah. Mereka tidak memeiliki ikutan yang mereka fanatik kepadanya, kecuali hanya fanatik kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam”[5]

Memang benar, bahwa Ulama Salafiyyin dulu maupun sekarang, mereka sangat jauh dari fanatisme terhadap para Imam dan masyayikh (para Syaikh). Merekalah yang paling tunduk dalam mengikuti dalil dan Burhan (petunjuk), dan lebih bersemangan (untuk mencari ilmu, mengamalkan dan mendakwahkan) Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam yang shahih.

Berbeda dengan para pengikut kelompok-kelompok yang mendasari pemikiran-pemikiran mereka di atas ketaatan mutlak (kepada pemimpinnya), yang apabila dilihat dengan kacamata Islami, maka dia (pemimpinnya) tidak berhak untuk dijadikan sebagai tempat bertanya, memberi hujjah atau dimintai dalil dan keterangan.

Adapun apa yang telah terjadi dari perilaku sebagian orang yang demikian itu jika mereka menisbatkan dirinya kepada dakwah Salafiyyah, Alhamdulillah ini jarang terjadi serta sedikit jumlahnya. Maka jika yang ditanya itu adalah orang yang jahil (bodoh) tentang hakikat jalannya Salaf, tentunya cercaan itu akan kembali kepada si jahil tersebut.

Bagaimana pendapat kalian jika kalian melihat perilaku umat Islam yang telah dikritik oleh orang-orang nasrani bahwa sebagian mereka terjatuh dalam perbuatan dzalim, keji, intimidasi, melampaui batas dan jelek, apakah setelah itu cercaan yang seperti ini akan mengenai Islam? Naudzubillah

Demikianlah pula dengan ucapan yang berasal dari para penganut akal dengan mengatakan: “Setiap jama’ah memiliki kesalahan tanpa terkecuali manhaj Salaf.” Sungguh dia telah mencampur adukkan antara yang haq dan bathil. Dan hal ini tidak muncul dari mereka kecuali dari kebodohan yang nyata.

Dan masih ada kebodohan dalam bentuk lain, yaitu “berdalil dengan kuantitas”, artinya bahwa jalan fulan ini banyak yang mengikutinya (tanpa melihat) apakah jalan itu benar atau tidak. Mereka mencerca Salafiyyin karena sedikit pengikutnya dan mereka (penganut akal) berbangga karena pemikiran-pemikiran dan buku-buku mereka laku di pasaran.

Banyaknya pengikut tidak bisa dijadikan sebagai dalil kebenaran. Begitu pula sedikitnya pengikut tidak bisa jadi bukti ketidakbenaran, karena hal ini tidak ada dasarnya, baik dari kacamata syari’at ataupu secara kenyataan.

Adapun dalil dari syari’at

Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman:

وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ ﴿١٠٣﴾

“Dan Sebagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya” (QS Yusuf : 103)

Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman:

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ

“Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya akan menyesatkanmu dari jalan Allah” (Al-An’am: 116)

Dan firman Allah’Azza Wa Jalla:

وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ

“Dan tidak beriman bersama Nuh itu kecuali sedikit” (QS Hud: 40)

Adapaun secara kenyataan

Bahwa orang-orang kafir berlipat-lipat jumlahnya dibanding dengan orang-orang Islam. Bahkan orang Nasrani lebih banyak dari kaum Muslim. Setengah juta orang-orang barat berkumpul untuk menyaksikan, mendengarkan seorang penyayi, berdansa dan berdrama.

Pada sebagian acara-acara TV aeperti drama dan nyanyi-nyanyian disaksikan pada waktu yang bersamaan oleh kurang lebih sepuluh juta orang. Sebagian buku-buku nujum (ilmu sihir) dibeli kurang lebih oleh sepuluh juta orang. Yang menghadiri acara kelahiran Al Badawi adalah masyarakat yang sangat banyak samapi mencapai dua juta orang. Apakah masuk akal, kalau kita beralasan karena banyaknya penggemar menunjukkan bahwa jalan mereka adalah benar dan mereka adalah orang-orang yang dicintai di sisi Allah. Inilah ukuran orang-orang jahil dan orang-orang yang tertipu.

Adapun para penganut Al-Haq mengetahui bahwa sedikit-banyak jumlah pengikut bukanlah sebaga ukuran. Bahkan, terkadang yang sedikit jumlahnya lebih dekat kepada kebenaran. Artinya bahwa pemegang Al-Haq itu sedikit, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

“Telah ditampilkan kepadaku umat-umat terdahulu, maka aku melihat seorang Nabi dengan pengikutnya (dengan jumlah) rahthun (di bawah sembilan di atas tiga) dan seorang Nabi bersama satu pengikut atau dua orang serta seorang Nabi tidak membawa penikut sama sekali”[6]

Apakah boleh seseorang menghakimi para Nabi, dengan mengatakan bahwa jalan mereka salah atau mereka gagal dalam berdakwah? Semoga Allah melindungi kita (dari ucapan jelek ini).

Termasuk perkara yang dimaklumi, seperti yang telah dijelaskan di dalam hadits-hadits yang shahih bahwa para pengikut Dajjal dari penduduk bumi ini banyak sekali. Hal ini dikarenakan kuat dan kerasnya kedustaan serta penyesatannya dan sangat sedikit yang kokoh di atas keimanan.

Para pengikut manhaj Salaf akan semakin bertambah kokoh dan kuat serta meyakini kebenaran manhaj Allah dan Rasul-Nya yang murni, ketika melihat manusia terpecah berkeping-keping dan melihat kepada pengikut manhaj-manhaj sesat yang banyak jumlahnya.

Mereka mengetahui, bahwa keadaan Islam sekarang dalam keadaan asing sebagaimanan asingnya ketika pertama kali datang. Mereka mengetahui bahwa orang yang berpegang dengan bimbingan agama di masa sekarang ini seperti orang yang memegang bara api, karena sedikitnya para pengikut Al-Haq dan banyaknya pengikut kebatilan dan juga karena kedzaliman ahli kebatilan terhadap pengikut Al-Haq yang sedikit jumlahnya.

Semuanya ini tidak membawa mereka kepada sikap putus asa serta lari dari rahmat Allah ‘Azza wa Jalla. Tidak pula menjadikan mereka meninggalkan kewajiban-kewajiban dalam menyampaikan (kebaikan), berdakwah dan amar ma’ruf nahi munkar.

Mereka bahkan terdorong untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan ini merupakan udzurnya (dihadapan Allah). Mereka selalu mengingat firman Allah ‘Azza wa Jalla:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَـٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ

“Seseungguhnya engkau tidak bisa memberikan petunjuk kepada siapa saja yang engkau cintai, dan akan tetapi Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya” (QS Al-Qashash: 56)

Dan juga firman Allah ‘Azza wa Jalla:

وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ﴿٣﴾

“Demi masa. Sesungguhnya semua manusia dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, orang yang saling berwasiat dalam kebaikan dan orang-orang yang saling berwasiat dalam kesabaran. ” (QS Al-Ashr: 1-3)

Di dalam ayat ini ada dalil yang menunjukkan terlalu banyak orang-orang yang merugi dan binasa serta sedikitnya orang-orang yang berhasil menang.

Kita meminta kepada Allah agar memberikan kita kekokohan (iman) dan terus menerus berada di atas Al-Haq (kebenaran).

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ ﴿٨﴾

“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; Karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (Karunia)” (QS Ali Imraan: 8)

(Dinukil dari Adwa’un ‘ala Kutubis Salafi terjemahan Indonesia Kajian Bagi Pemula Berkenaan dengan Salaf, Karya Asy Syaikh Muhammad bin Rabi’ bin Hadi Al Madkhali, diterbitkan oleh Pustaka Sumayyah)



[1] Lihat Kitab Al-Hujjah fi Bayan Al-Manhajjah (1/364), karya Al-Ashbahani

[2] Majmu’ Fatawa (4/149), karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan kitab Ru’yatun Waqi’iyah fil Manahij ad-Da’wiyyah (hal. 21-23), karya Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Abdul Hamid

[3] Sunan Abi Dawud (5/13), At-Tirmidzi dengan Syarah Tuhfatul Ahwadzi (7/438), Ibnu Majah (1/15) dalam Al-Muqaddimah, Ahmad (4/126-127), dan Al-Hakim dalam Kitabul ‘Ilmi (1/95-97). Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam kitab Silsilah Ash-Shahihah (2/647)

[4] Di dalam riwayat yang lain dengan lafadz:

“Terus-menerus ada sekelompok dari umatku yang senantiasa tampil di atas kebenaran. Tidak akan membahayakan mereka (atas perbuatan) orang-orang yang menghinakan mereka, sampai datang keputusan Allah dan mereka dalam keadaan seperti itu” (HR. Bukhari-Muslim, dan lafadz hadits ini adalah lafadz milik Imam Muslim dari sahabat Tsauban, hadits no. 1920 -ed)

[5] Sampai di sini ucapan Syaikh Bakr Abu Zaid, Semoga Allah memberi berkah dalam umur beliau dan memberikan manfaat pada ilmu beliau.

[6] Diriwayatkaan oleh Imam Muslim dalam Kitabul Iman hal 374 dari hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhuma yang panjang



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: