Posted by: abuusamah88 | October 21, 2008

PERMULAAN MUNCULNYA ISTILAH SALAF

PERMULAAN MUNCULNYA ISTILAH SALAF

Syaikh kami Muhammad Amaan Al Jaami berkata bahwa sesungguhnya istilah [Salaf] ini telah muncul dan terkenal ketika terjadi perdebatan tentang permasalahan ushuluddin (pokok-pokok agama-ed) di kalangan kelompok-kelompok ahlul kalam. Masing-masing kelompok tersebut berusaha untuk menisbatkan diri mereka kepada Salaf dan mengklaim diri serta pemikiran mereka adalah sama dengan Salaf. Dalam keadaan seperti itu haruslah dimunculkan prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah yang jelas dan kokoh batasannya tentang apa itu manhaj Salaf. Sehingga menjadi jelas bagi orang yang ingin menisbatkan dirinya kepada Salaf dan berjalan di atas jalan mereka[1]

Syaikh Bakr Abu Zaid berkata bahwa sesungguhnya kaum muslimin pada generasi yang pertama sebelum terjadi perpecahan dan perselisihan tidak memiliki nama tersendiri. Karena mereka sebagaimana yang disebutkan adalah kaum yang mengamalkan Islam dengan sempurna. Akan tetapi setelah muncul kelompok-kelompok sesat yang semuanya tercakup pada istilah ahlul ahwa karena sangat kuat dalam mengikuti hawa nafsu; Dan juga (tercakup dalam) istilah ahlul bida’ karena mengikuti sesuatu yang berasal dari luar agama Islam; Mereka juga (tercakup dalam) istilah ahlusy syubuhat karena mencampur adukkan antara haq dengan batil sehingga mereka membuat rancu terhadap umat, karena mereka keluar dari sunnah yang diakibatkan oleh syubhat yang membinasakan; Dan pemimpin mereka yang pertama adalah musuh pertama, Iblis. Semoga Allah ‘Azza Wa Jalla malaknatinya. Dialah yang pertama kali menentang Allah ‘Azza Wa Jalla dengan kiasnya. Allah ’Azza Wa Jalla berfirman

قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

“Iblis berkata aku lebih baik daripadanya, Engkau menciptakanku dari api dan Engkau menciptakan Adam dari tanah” (QS Al A’raaf : 12)

Ketika muncul kelompok-kelompok sempalan yang menisbatkan diri mereka kepada Islam (namun) terpisah dari tiang inti kaum Muslimin, munculah nama-nama syar’I bagi jamaah kaum Muslimin (yang asli) yang dapat membedakan (dari kelompok-kelompok yang menyimpang itu), untuk meniadakan kelompok-kelompok dan hawa nafsu dari mereka. Sama saja apakah nama-nama tersebut berdasarkan ketetapan syariat seperti Al Jamaah-jamaatul muslimin-, Firqotun Najiyah, Aththoifah Almanshuroh, atau juga yang disandarkan kepada sikap mereka yang tegas dalam memegangi Sunnah di hadapan ahlul bid’ah. Dengan demikianlah munculah keterikatan antara mereka dengan generasi pertama, sehingga mereka disebut dengan Salaf, Ahlul Hadits, Ahlul Atsar, Ahlussunnah Wal Jamaah. Nama-nama yang sesuai dengan syariat ini, berbeda dengan nama-nama kelompok manapun[2]

(Dinukil dari Kitab Secercah Cahaya Hidayah, Terjemah dari Irsyadul Bariyyah ila Syari’atil Intisaab lis Salafiyyah, karya Asy Syaikh Abu ‘Abdissalam Hassan bin Qashim Al Husaini Ar Rimmy As Salafy)


[1] As Sifat Al Ilahiah, hlm 57-58

[2] Hukmu Al Intima, hlm 40-41


Responses

  1. Fatwa Syaikh Shalih Al-Fauzan: Salaf adalah Hizbullah Yang Beruntung, Adapun Penamaan Dengan As-Salafi Atau Al-Atsari Tidak Ada Asal Usulnya

    Seseorang bertanya, “Wahai Fadhilatusy Syaikh Shalih Al-Fauzan—semoga Allah senantiasa memberikan taufiknya kepada Anda, kami mendengar sebagian orang mengatakan, ‘Tidak boleh intisab “menyandarkan diri” pada salaf dan Salafiyyah dianggap sebagai salah satu hizb ‘golongan’ yang hidup pada masa tertentu.’ Apa pendapat Anda mengenai pernyataan ini?”

    Sayikh Shalih AL-Fauzan menjawab, “Iya! Salaf adalah hizbullah ‘golongan Allah’. Salaf adalah golongan, akan tetapi ia adalah hizbullah. Allah berfirman:

    “Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung”. (Al-Mujadillah [58]: 22)

    Barangsiapa menyelisihi salaf, maka mereka adalah golongan-golongan sesat lagi meyimpang. Golongan itu sendiri bermacam-macam. Ada golongan Allah (hizbullah) dan ada golongan setan (hizbusy syaithan) sebagaimana tercantum di akhir surat Al-Mujadilah. Ada hizbullah dan ada hizbusy syaithan. Golongan pun beragam. Barangsiapa berada di atas manhaj Al-Kitab dan As-Sunnah, maka dia adalah hizbullah. Sebaliknya, barangsiapa berada di atas manhaj sesat, maka dia adalah hizbusy syaithan. Engkau tinggal memilih; mau menjadi hizbullah atau menjadi hizbusy syaithan! Pilih sendiri!”

    Kemudian Syaikh Hafizhuhullah ditanya, “Wahai Syaikh—semoga Allah senantiasa memberikan taufiknya kepada Anda, sebagian orang mengembel-embeli di belakang namanya dengan As-Salafi atau Al-Atsari. Apakah ini termasuk bentuk penyucian terhadap diri sendiri? Atau apakah memang sesuai dengan syariat?”

    Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhuhullah menjawab, “Yang wajib adalah seseorang mengikuti kebenaran. Yang wajib adalah seseorrang mengkaji dan mencari kebenaran serta mengamalkannya. Adapun dia menamai dirinya dengan As-Salafi atau Al-Atsari dan yang semisal, maka tidak ada alasan untuk dapat mengklaim dengan nama ini.

    Allah Yang Maha Mengetahui berfirman:

    “Katakanlah (kepada mereka), ‘Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu (keyakinanmu), padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Hujurat [49]: 16)

    Menamakan diri dengan As-Salafi, Al-Atsari, dan yang semisal adalah tidak ada asal-usulnya. Kita melihat pada substansi nyata; bukan perkataan, penamaan diri, maupun pengakuan.

    Terkadang, seseorang mengatakan kepada orang lain, ‘Ia salafi’, padahal orang tersebut bukan salafi (pengikut manhaj salaf). Atau juga mengatakan, ‘Ia atsari’, padahal orang yang ditunjuk bukan atsari (pengikut atsar salaf). Sebaliknya, seseorang adalah salafi (pengikut manhaj salaf) dan atsari (pengikut atsar salaf), namun tidak mengatakan, “Aku ini atsari, Aku ini salafi.’ Hendaknya kita melihat pada substansi nyata; bukan pada penamaan maupun klaim pengakuan.

    Seorang muslim harus komitment dengan adab terhadap Allah swt. Tatkala orang-orang Arab Badui mengatakan, ‘Kami telah beriman!’ Allah mengingkari mereka. Allah berfirman:

    “Orang-orang Arab Badui itu berkata, ‘Kami telah beriman’. Katakanlah (kepada mereka), ‘Kamu belum beriman’, tetapi katakanlah, ‘Kami telah tunduk’.” (Al-Hujurat [49]: 14)

    Allah mengingkari orang-orang Arab Badui yang menyifati diri mereka sebagai orang beriman. Padahal, mereka belum sampai pada tingkatan beriman. Mereka baru saja masuk Islam; itu pun masih diliputi keraguan.

    Orang-orang Arab Badui itu datang dari pedusunan. Mereka menganggap diri mereka sudah lama menjadi orang beriman. Padahal tidak! Mereka baru saja masuk Islam. Apabila mereka melanjutkan keislaman mereka dan mau belajar, maka keimanan pun akan masuk ke dalam hati mereka sedikit demi sedikit. Allah berfirman:

    “Padahal iman itu belum masuk ke dalam hati kalian.” (Al-Hujurat [49]: 14)

    Kata lamma “belum” menunjukkan sesuatu yang masih menjadi harapan. Maksudnya, iman baru akan masuk tapi engkau sudah menganggap beriman dari pertama kali sebagai bentuk penyucian terhadap diri sendiri. Maka, tidak perlu engkau mengatakan, ‘Aku salafi! Aku atsari! Aku begini dan begini!’ Hendaklah engkau mencari kebenaran dan mengamalkannya. Perbaiki niatmu! Allah-lah Yang Maha Mengetahui substansi nyatanya.”

    Sumber : http://www.islamgold.com/view.php?gid=2&rid=89


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: