Posted by: abuusamah88 | September 21, 2008

MAKNA DARI KATA SALAF

MAKSUD DARI KATA SALAF

Secara Bahasa

Ibnu Mandzur Berkata bahwa As Salaf, As Salif, dan As Salafah adalah jama’ah yang terdahulu. [1]

Abu Sa’adat Ibnul Atsir berkata “Dikatakan الإنسان سلف orang yang telah mendahului dalam kematian dari kalangan nenek moyang atau kerabat. Oleh karena inilah generasi yang pertama dari kalangan pengingkut Rasul disebut dengan Salafush Shalih“[2]

‘Abdul Karim As Sam’any berkata bahwa as salafi dengan di fathah huruf sin dan lam diakhiri dengan huruf fa, ini adalah penisbatan kepada as salaf dalam mengikuti manhaj mereka.[3]

Abul Hasan Ibnul Atsir Al Jaziri berkata setelah membawakan perkataan As Sam’any di atas, “Dan dengannya siketahui bahwa mereka adalah al jamaah[4]

Secara Istilah

Al Imam As Safarini berkata bahwa yang dimaksud dengan manhaj salaf adalah segala sesuatu yang para sahabat ada di atasnya. Dan juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, kemudian pengikutnya lagi. Serta para tokoh agama yang terkenal dengan keimaman, kebesaran, dan kedudukan mereka dalam perkara agama, sehingga manusia mengambil ucapan-ucapan mereka dari generasi yang pertama kepada generasi yang berikutnya. Mereka bukanlah orang-orang yang tertuduh dengan bid’ah atau terkenal dengan julukan yang tidak diridhoi, seperti Khawarij, Qadariyyah, Murji’ah, Jabriyyah, Jahmiyyah, Mu’tazilah, Karamiyyah dan kelompok-kelompok yang semisal dengannya.[5]

Lajnah Da’imah ditanya tentang apa yang dimaksud dengan Salafiyyah dan apa pendapat mereka tentangnya. Mereka menjawab bahwa Salafiyyah adalah penisbatan kepada salaf. Sedangkan salaf adalah para sahabat Rasulullah, dan para Imam-imam yang membawa petunjuk dari tiga generasi yang pertama yang kebaikannya dipersaksikan oleh Rasulullah. Beliau bersabda

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَجِيءُ أَقْوَامٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ

Sebaik-baik kalian adalah generasiku (sahabat), kemudian yang sesudahnya dan yang sesudahnya. Kemudian datanglah suatu kaum yang persaksuan seseorang diantara mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya[6]

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya, Bukhari dan Muslim

Adapun kata Salafiyyun adalah bentuk jamak dari kata Salafi adalah penisbatan kepada salaf dan telah lewat (pembahasan) maknanya. Mereka adalah orang-orang yang berjalan di atas manhaj Salaf karena mengikuti Al Qur’an dan Sunnah, serta menyeru umat kepada keduanya dan untuk beramal dengan keduanya. Dengan demikian mereka disebut Ahlus Sunnah wal Jamaah[7]

Syaikh yang mulia ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz berkata, “Salaf adalah tiga generasi yang utama. Siapa saja yang menempuh jejak mereka serta beramal di atas manhaj mereka maka dia disebut dengan Salafi. Dan siapa saja yang menyelisihi mereka maka dia disebut dengan khalafi[8]

Syaikh kami Muhammad Amaan bin ‘Ali Al Jami’ berkata, “Ketika kita menyebut secara mutlak kata salaf, maka sesungguhnya yang kita maksudkan adalah (makna) secara istilah yaitu para sahabat Rasulullah, yang mereka itu hidup di zaman beliau, mengambil ilmu agama yang masih basah-segar secara langsung dari beliau. Sebagaimana masuk pula dalam istilah ini (para tabi’in) yang tak lama kemudian mengikuti mereka dengan baik serta mewarisi ilmu dari mereka. Kemudian juga orang-orang yang termasuk dalam persaksian dan pujian Rasulullah sebagai sebaik-baik manusia, ketika beliau bersabda,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi berikutnya dan berikutnya[9]

Hadits ini juga mencakup Tabi’ut Tabi’in (murid-murid Tabi’in)

Syaikh kami Shalih bin ‘Abdullah Al Abud berkata, “Sesungguhnya yang dimaksud dengan istilah Salafiyyah adalah mengikuti jalan pendahulu umat Islam yang shalih yang mereka itu adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Makna hal itu adalah ijma’ yang dipakai menjadi hujja, karena (ijma’) tersebut adalah ijma’ di dalam mengikuti Sunnah Rasulullah secara lahir batin, juga mengikuti jalan generasi yang pertama (yaitu) Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik”[10]

Syaikh Bakr bin ‘Abdullah Abu Zaid berkata, “Apabila dikatakan As Salafu atau As Salafiyyun atau As Salafiyyah maka itu adalah suatu penisbatan kepada Salafush Shalih (yaitu) para sahabat semuanya. Orang yang mengikuti mereka dengan baik, bukanlah orang yang (mengikuti) selain sahabat (yaitu) para pengekor hawa nafsu dari kalangan khalaf yang telah memisahkan diri dari jalan Salafush Shalih, dengan memakai nama atau atribut tertentu… Oleh karena itu kata Salaf sendiri bermakna Salafush Shalih. Dengan dalil kalau kata ini diucapkan secara mutlak, menunjukkan semua orang yang mencontoh para Sahabat, termasuk juga orang yang ada di zaman kita, demikian pula seterusnya. Begitulah perkataan ulama tentang Salaf. Bahwasanya Salafiyyah adalah penisbatan tanpa (memakai) penamaan dari luar Al Qur’an dan Sunnah. Penisbatan ini tidaklah terlepas sekejap pun dari generasi yang pertama. Bahkan penisbatan ini adalah mereka dan kembali kepada mereka. Adapun manusia yang menyimpang dari mereka dengan membuat penisbatan kepada nama-nama atau tanda-tanda baru, maka orang itu bukalah Salafi. Walaupun hidup di antara mereka atau sezaman dengan mereka. Oleh karena itu para sahabat berlepas diri dari kelompok Qadariyyah, Murji’ah dan lain-lain”[11]

Beliau juga berkata, “ Jadikanlah dirimu sebagai seorang Salafi yang benar-benar mengikuti jalan Salafush Shalih dari kalangan sahabat dan para ulama setelah mereka yang mengikuti jejak sahabat pada semua bagian agama, seperti tauhid, ibadah, dan yang lainnya”[12]

(Dinukil dari Kitab Secercah Cahaya Hidayah, Terjemah dari Irsyadul Bariyyah ila Syari’atil Intisaab lis Salafiyyah, karya Asy Syaikh Abu ‘Abdissalam Hassan bin Qashim Al Husaini Ar Rimmy As Salafy)


[1] Lisanul Arab 6/330

[2] An Nihayah fi Ghurobil Hadits 3/390

[3] Al Ansab 7/104

[4] Allubabu fi Tahdzibil Ansab

[5] Lawamiul Anwar 1/20

[6] Shahih Al Bukhari, Kitab : Asy-Syahadah (2457)

[7] Lajnah Daaimah Li Buhuts Al Ilmiyyah Nomor 1361/165, 166

[8] Syarah ‘Aqidah Hamuwiyyah oleh Syaikh Hamd bin ‘Abdul Muhsin At Tuwaijiri hal 203

[9] As Sifat Al Ilahiyyah fil Kitabi was Sunnah hal 57

[10] Aqidatu Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab As Salafiyyah hal 195

[11] Hukmul Intima ‘Alal Firoqi wal Ahzab wal Jama’at Islamiyyah hal 46-47

[12] Hilyah Thalibul ‘Ilmi hal 8


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: