Posted by: abuusamah88 | February 25, 2008

Biografi Syaikh Yahya bin ‘Ali Al Hajuury -Hafidzahullah-

TARJAMAH AS-SYAIKH AL-MUHADITS YAHYA BIN ALI AL-HAJUURI

NAMA, NASAB, MASA PERTUMBUHAN SERTA RIHLAH BELIAU DALAM MENUNTUT ILMU.
Ditulis: Syaikh Yahya bin Ali-Al-Hajuuri
Diterjemahkan: Abu Nua’im Fandy

Telah di minta dariku untuk menulis sedikit tentang kelahiran, nama, negeriku, masa pertumbuhanku dan beberapa yang berkaitan dengannya . Dan setelah aku di minta secara berulangkali ,maka aku pun memenuhi permintaan mereka (yang aku cintai dan muliakan) dengan menulis beberapa paragraf ini.
Maka aku katakan : “Dengan mengharap taufik dari allah”

Adapun namaku : Yahya bin Ali bin Ahmad bin Ali bin Ya’qub Al-Hajuuri , berasal dari Kabilah bani wahan , dari desa Hanjaroh yang berada di bawah gunung Hanjaroh , mudah mudahan Allah muliakan mereka dengan menuntut ilmu Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Sholallahu alaihi wassallam .
Kemudian kakekku Ahmad bin Ali bin Ya’qub pindah dari desanya ke desa lain yang desa itu terpisah jauh dengan desa sekitarnya serta memiliki jarak yang cukup jauh dari desa asalnya , nama desa tersebut jabar qobilah az zaghobiyah. Kemudian beliau menikah dengan salah satu wanita dari penduduk daerah itu, jadilah mereka tersebut sebagai kerabatku dari pihak nenek . Ayahku tumbuh di antara sebagian keluarga mereka dan kemudian menikah dengan salah putri mereka yaitu dengan ibuku yang beliau berasal dari keluarga ‘iqol dari desa az-zaghobiyah (semoga Allah merahmati diantara mereka yang sudah meninggal serta memperbaiki keadaan mereka yang masih hidup) dan di sanalah aku di lahirkan sekitar 40 tahun yang silam, di hari yang terkenal dengan hari Revolusi Republik Yaman.
Ayahku yang (semoga Allah selalu menjaganya), sepanjang umurnya digunakan dalam ragka ketaatan kepada Allah. Beliau gemar berkebun dan beliau dahulu berkebun di ladang yang cukup luas. Dari kebun itu menghasilkan hasil yang cukup banyak dari gandum, jinten dan yang lainnya. Sampai-sampai sebagian dari orang berhutang gadum dan pakan sapi kepada ayahku ketika musim kemarau. Selain dari itu telah Allah memberikan kepadanya binatang ternak dari kambing dan sapi. Dan Alhamdulillah, kehidupan orang tuaku dalam keadaan yang sangat baik.

Kedua orang tuaku mendidik diriku dan saudara-saudaraku dengan pendidikan yang bagus , mereka berdua jauh dari perkara-perkara yag jelek seperti kot (tumbuhan khas yaman untuk dikonsumsi denga cara dikunyah utuk mendapatkah ketenangan), rokok, syamah (tembakau bubuk memiliki fungsi yang sama dengan kot), dan perkara-perkara mungkar lainya. Beliau sangat benci dan tidak suka apabila melihat salah satu di antara kami kurang peduli dalam Sholat jama’ah ataupun sholat Sunnah Rawatib . Dan yang paling beliau impikan adalah kelak ada di antara kami anak-anaknya yang akan menjadi alim ulama . Dalam keadaan tidak ada di daerahku tempat belajar kecuali kepada katatib (orang yang pintar dalam masalah agama) . Maka beliau menaruhku di tempat belajar yang dinamakan ma’lamatu syaikh yang pengajarnya adalah orang yang terpercaya dan fakih di desa kami. Beliau juga merangkap sebagai khatib desa kami, nama beliau yahya al ‘atabi rahimahullah . Metode belajar di tempat tersebut adalah sebagaimana metode pendidikan tempo dulu , belajar membaca Al-Qur’an dengan melihat mushaf dan belajar menulis. Bagi yang selesai ataupun lulus dari tempat tersebut biasanya akan menjadi orang yang di faqihkan di desanya serta akan dijadikan imam dan khatib. Dan dia berkhutbah dengan membaca teks-teks khutbah yang sudah tertulis ataupun di bukukan serta tulisan-tulisan tentang akad-akad dan semisalnya.

Dan Al- faqih Al-Atabi sangat mencintaiku di bandingkan dengan murid-murid yang lainnya . Tatkala aku lulus dari tempat belajar membaca Al-Qur’an tersebut serta telah mengetahui sedikit ilmu menulis maka ayahku berkeinginan keras agar aku pergi belajar ke kota Az-Zaidiyah yang kota ini terkenal dengan kota ilmu. Mereka terkenal dengan ahli fatwa dalam masalah Thalaq , warisan dan perkara yang lainnya.
Ayahku (semoga Allah menjaganya) adalah orang yang mencintai ilmu dan agama (ibadah) seperti puasa dan sholat malam . Aku tidak pernah mengetahui beliau memakan harta haram, akan tetapi beliau tidak pernah tahu tentang apa itu sufiyah, syi’ah dan tidak pula yang lainnya dari firqoh-firqoh sesat. Beliau sangat memuliakan mereka dan mereka pun sering berkunjung kepada ayahku dan siapapun yang mengunjugi beliau dari mereka (Firqoh-firqoh sesat) maka beliau sangat memuliakanya.
Allah pun menyelamatkanku dari belajar dengan mereka orang-orang sufiyah dengan perantara ibuku (semoga Allah selalu menjaganya dan semoga Allah memberikan kepadaya khusnul khotimah) , tatkala beliau menangis menahanku untuk tidak pergi atau tinggal di negeri orang seorang diri tanpa adanya yang akan mencurahkan kasih sayang di negeri tersebut dan saat itu aku masih kecil . Akhirnya ayahku pun memintaku untuk mengembala kambing. Beliau adalah orang yang pertama kali membangun masjid di desa kami yang terbuat dari kayu dan jerami , Mesjid itu sendiri tergolong kecil dan hanya mampu menampung 40 orang ketika sholat . Ketika itu mesjid kami sudah di anggap sebagai masjid jami’ (besar) untuk beberapa desa di sekitarnya , tatkala mesjid tersbut roboh , maka dibangunlah mesjid tersebut dari batu yang luasnya masih seperti yang dulu . Saat itu aku adalah Imam di Mesjid tersebut ketika dilaksanakannya sholat Jum’at dan ada yang menggantikanku dari tugasku menggembala kambing disebabkan aku harus berkhutbah untuk mereka dengan membaca buku yang isinya adalah khutbah-khutbah tertulis. Aku paling sering menggunakan buku Al-futuhat Ar-Robaniyah yang di tulis oleh Al-Baihani rahimahullah, sampai hampir-hampir aku menghafalnya karena terlalu seringnya aku mengulanginya .

Kemudian aku berangkat ke Saudi , di sana aku menghadiri Halaqoh iqro’ (membaca) yang dilaksanakan setelah sholat fajar bersama seorang guru bernama Syaikh Ubaidilah Al-Afghoni hafidhohullah tepatnya di kota Abha , aku pun sedikit belajar darinya kitab shohih muslim , dan pelajaran ini (shohih muslim) di mulai sebelum menyimak hapalan kami , Kemudian beliau safar dan setelah itu aku pindah ke tempat syaikh Muhamad A’dhom yang mengajarkan Al-Qur’an di masjid Al-Yahya. Aku membaca di sisi mereka berdua sampai pada surat Al-A‘rof , Kemudian beliau pun safar juga . Dan aku menyelesailkan hapalan Al-Qur’an dengan riwayat khafs dari Ashim di tempat Syaikh Muhamad Basyir , Alhamdulillah.
Bersamaan dengan cintaku yang sangat dalam terhadap ilmu , tidak ada yang menasehatiku untuk duduk belajar dengan di depan Syaikh Al-Imam ibnu baaz atau yang lainnya dari kalangan ulama-ulama kerajaan Saudi Arabia .
Kemudian aku mendengar tentang seorang ulama yang bernama Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i , beliau adalah seorang ulama salafi yang mengajarkan ilmu Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Sholallahu alaihi wassallam di daerah Dammaj, (Semoga Allah menjaganya dan memberi taufiq kepada penduduknya dengan menganugerahi kebaikan- kebaikan yang banyak). Dammaj adalah salah satu desa di Provinsi Sa’ada ,Yaman. Aku pun menemui beliau di rumahnya tepatnya pada tahun 1405 H bersama ayahku , Syaikh rahimahullah menasehatiku dengan nasehat yang bagus kemudian beliau pun pergi , setelah itu beliau terus-menerus membantuku dalam menuntut ilmu dari segi harta .
Semenjak itulah aku menuntut ilmu , aku tidak suka bepergian dan tidak pula membuang-buang waktuku sampai akhirnya Allah dengan keutamaannya memudahkanku untuk mengambil faedah-faedah dan ilmu yang banyak. Itu semua berkat bimbingan Syaikh Muqbil Al-Muhadist As-Salafi Al-Maimun muqbil bin Hadi Al-Wadi’i Rahimahullah.
Sebagaimana keadaan Darul Hadits yang penuh barokah, : aku menyandarkan semua da’i-da’i Salafiyah di yaman kepada Imam Wadi’I (syaikh Muqbil bin Hady) Rahimahullah . Dan aku mengambil beberapa pelajaran dari pelajaran nahwu, aqidah ,fiqih dengan beberapa masyaikh yang kami muliakan. Mereka adalah murid-murid senior Syaikh Muqbil bin Hady Al-Wadi’i di pondoknya seperti Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Al-Wushobi Al-Abdali, Syaikh Abdul Mushowir Al-Ba’dani dan yang selain dari mereka (semoga Allah memberi pahala untuk amalan mereka semua) .
Dahulu Syaikh Muqbil bin Hady Al-Wadi’i (semoga Allah menempatkannya di dalam surganya Al-Firdaus yang paling tinggi) memintaku untuk meggantikan beliau mengajar ketika beliau sedang sakit atau bepergian kemudian tatkala beliau telah merasa sudah dekat ajalnya, beliau mewasiatkan kepadaku untuk menggantikan beliau (sebagai mudir Darul Hadits Dammaj).
Dalam keadaan musuh-musuh Ma’had Darul Hadits Dammaj meyangka dengan prasangkaan yang buruk , yaitu setelah meninggalnya beliau , dakwah ini akan hilang dan bangunannya akan dijadikan sebagai tempat makanan hewan ternak atau dijadikan tempat untuk menikmati kot (Tanaman khas Yaman yang dikonsumsi untuk mendapatkan ketenangan dengan cara dikunyah) sebagaimana perkara tersebut kami dengar juga selain kami di saat sakitnya beliau dan juga pada waktu-waktu yang sebelumnya. Dan tatkala Allah berikan di hati hamba-hambanya rasa penerimaan terhadap kebaikan-kebaikan ini setelah meninggalnya Syaikh rahimahullah , ternyata dakwah ini semakin meluas dan menyebar dan penuntut ilmu pun lebih banyak di banding zaman beliau rahimahullah masih hidup.
Maka menjadi jengkellah orang-orang yang hatinya tekena penyakit hasad dari kalangan murid-murid beliau rahimahullah dan juga yang lainnya dari orang-orang yang terfinah dunia dan hizbiyyah. Maka Allah membuat kejelekan mereka tak berarti (bagi dakwah) dan hancurlah makar-makar mereka.
Dan terus menerus dakwah ini berada di atas kebaikan , semua itu sebelum dan sesudahnya adalah keutamaan dari Allah subhana wa ta’ala Allah berfirman :

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, Maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, Maka Hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS. An-Nahl : 53)
Kita memohon kepada Allah untuk menjaga agama dan dakwah kita dan menjaga kita, negeri kita dan seluruh negeri-negeri kaum muslimin dari fitnah yang ada, baik yang nampak ataupun yang tidak , Alhamdulillahi Robbil Alamin

Ditulis oleh :
Abu Abdirahhman, Yahya bin Ali bin Ahmad bin Ali bin Ya’qub Al-Hajuuri
19 Jumadi Awal 1428

KELUARGA BELIAU
Oleh : Abu Dzulkifli Al-Banjari

Beliau memiliki 4 orang Istri dan belasan anak. Salah satu istri beliau adalah Ummu Syu’aib Al-Wadi’iyah janda mendiang Syaikh Muqbil bin Hady yang beliau nikahi sepeninggal Syaikh Muqbil. Anak laki-laki tertua beliau bernama Abdurrahman umurnya sekitar 11 atau 12 tahun, mungkin dengan sebab itulah beliau berkunyah Abu Abdirrahman. Saat ini, anak laki-laki beliau tersebut bersama beberapa anak-anak lainnya memperdengarkan hapalan mereka sebelum dimulainya pelajaran antara Maghrib dan Isya. Adapun yang anak beliau (Abdurrahman) perdengarkan adalah hapalan dari kitab Umdatul Ahkam, karya Al-Imam Al-Maqdasi.

AKTIVITAS BELIAU SEHARI-HARI
Oleh : Abu Dzulkifli Al-Banjari

Aktivitas beliau setiap harinya dimulai dengan menjadi Imam Sholat Shubuh di Mesjid Darul Hadits Dam maj kemudian masih di tempat yang sama, setelah sholat shubuh beliau mengecek hapalan Al-Qur’an beliau, yang menyimak hapalan biasanya adalah ikhwan yang bertugas mengawal beliau saat itu. Menurut kabar yang pernah kami terima, setiap harinya beliau mengecek hapalannya kurang lebih 4 Juz Wallahu a’lam. Di sela-sela kegiatan tersebut biasanya ada beberapa santri ataupun tamu yang berpamitan hendak melakukan safar atau kembali ke daerah asalnya. Dan kegiatan ini biasanya berlangsung sampai terbitnya matahari.
Setelah itu beliau berpindah ke ruang tamu untuk mengajar 2 pelajaran, yang pertama adalah kitab Shohihul Adzkar dan yang kedua adalah kitab Subulus Salam. Dan kedua pelajaran ini tidak diwajibkan bagi seluruh santri, bagi yang ingin mengikutinya dipersilahkan dan bagi yang tidak ingin mengikutinya maka tidak mengapa. Setelah itu beliau memasuki rumahnya.. Wallau a’lam apa kegiatan beliau saat itu, ada kabar yang kami dengar, pada saat-saat itulah beliau memuroja’ah karya tulis para santri Darul Hadits Dammaj serta pada saat itu beliau juga menulis karya tulis mereka selain waktu di waktu-waktu yang lain, yang jelas pada saat-sat itu beliau tetap menerima tamu yang memiliki kepentingan baik dari santri Darul Hadits Dammaj ataupun tamu dari luar.
Pada saat waktu Sholat Dzhuhur beliau kembali keluar dari rumah dan kemudian memberikan pelajaran umum ba’da sholat Dzhuhur, kemudian beliau biasanya menerima sebagian tamu atau santri yang baru datang dan kemudian kembali masuk rumah beliau terkadang beliau juga menjamu makan siang para tamu atau santri yang baru datang.
Kemudian beliau kembali keluar ba’da Sholat Ashar dan memberikan pelajaran, setelah pelajaran ba’da ashar beliau meluangkan waktunya menerima tamu dan satri-santri yang memiliki keperluan.
Kemudian antara Maghrib dan Isya beliau kembali memberikan pelajaran dan terkadang meberikan Muhadharoh via telepon dan pemberian fatwa atas pertanyaan dari berbagai daerah dan Negara.
Inilah kurang lebih kegiatan beliau sehari-hari dan bisa dikatakan kegiatan seperti ini tidak pernah berubah kecuali pada-pada waktu tertentu dan itu jarang sekali. Beliau keluar dari rumah beliau selain ke mesjid hanya pada saat memberikan Khutbah Ied serta apabila ada keperluan syar’I seperti sholat jenazah, menjenguk orang sakit, memenuhi undangan, melihat keadaan ma’had apabila ada sesuatu yang berubah serta kegiatan penting lainnya.
Seingat kami, selama dua tahun terakhir beliau hanya melakukan safar selama 5 kali :
1. Safar untuk melakukan dakwah ke daerah Shon’a dan sekitarnya selama 3 atau 4 hari
2. Safar ke Shon’a untuk sebuah keperluan, menurut kabar yang kami dengar dalam rangka pengurusan surat- menyurat dalam rangka menunaikan ibadah haji
3. Dakwah ke perbatasan Saudi Arabia – Yaman
4. Dakwah ke daerah Sho’da
5. Melakukan ibadah haji

Inilah bukti keseriusan dalam menempa para murid-muridnya, beliau sangat menghindari keluar dalam waktu yang terlalu lama dari Darul Hadits Dammaj karena beliau sangat memuliakan para penuntut ilmu yang datang dari berbagai Negara untuk menimba ilmu dari beliau. Dan di tengah segala aktivitasnya yang padat seperti ini, denga keutamaan dari Allah beliau terus mengeluarkan hasil karya yang saat ini telah mencapai lebih dari 70 karya tulis.

PUJIAN PARA ULAMA TERHADAP SYAIKH YAHYA BIN ALI AL-HAJUURI
Dikumpulkan dan diterjemahkan oleh : Abu Abdirrahman Al-Harits

Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i :

1. Beliau berkata dalam muqoddimah kitab “Dhiya’us salikin” : ” telah dibacakan kepada saya sebagian dari risalah safar yang telah ditulis oleh saudara kita Asy Syaikh Al Faadhil Az Zaahid ( yang zuhud) Al Muhadits (Ahlul Hadits) Al faqih (Ahlul Fiqh)…… dan Al Akh Asy Syaikh Yahya,dia adalah sosok seseorang yang dicintai di kalangan saudaranya ahlus sunnah, karena mereka melihat pada dirinya berupa aqidah yang baik dan kecintaannya kepada as sunnah dan kebenciannya terhadap bid’ah dan hizbiyyah yang sangat mudah merubah kepribadian seseorang.dan dia memberikan manfaat kepada saudaranya dari kalangan kaum muslimin dengan fatwa-fatwa yang bersandarkan diatas dalil”

2. Dan beliau (Syaikh Muqbil) berkata dalam muqoddimah kitab “ahkamuh jum’ah”: “Dan asy syaikh yahya (semoga Allah menjaganya) diatas puncak kehati-hatian,ketaqwaan,zuhud,waro’ dan puncak takut kepada Allah.Dan dia adalah orang yang selalu mengatakan (menyuarakan) Al Haq yang dia tidak takut (karena sebab Allah)., celaan orang yang mencela. Dan dia adalah yang menggantikan saya dalam memberikan pelajaran-pelajaran (Durus) di Darul Hadits di Dammaj, yang dia menyampaikannya dengan sebaik-baik yang diharapkan.”

3.Dan beliau (Syaikh Muqbil) berkata dalam muqoddimah kitab “Islahul Mujtama'” :.”…….dan Al akh syaikh Yahya bin Ali Alhajuuri , Alhamdulillah (berkat keutamaan dari Allah) sungguh telah menjadi rujukan dalam pelajaran dan fatwa-fatwa. Saya memohon kepada Allah agar membalasnya dengan kebaikan dan agar memberikan berkah dalam ilmunya, hartanya dan keluarganya….”

4.Dan beliau (Syaikh Muqbil) berkata dalam muqodimmah kitab “ahkamut tayammum” : “Dan saya telah melihat apa yang ditulis oleh Asy Syaikh Al faadhil yahya bin Ali Al hajuuri dalam permasalahan tayammum, maka saya mendapatinya telah meletakkan di dalamnnya faidah faidah yang pantas bagi seseorang untuk rihlah (menempuh pejalanan) untuk mendapatkan faedah-faedah tersebut, yaitu berupa ucapan beliau tentang hadits, rijal sanad (orang-orang yang meriwayatkan hadits)dan istimbat (pengeluaran/penarikan hukum) dalam permasalahn fiqih, yang hal tersebut menunjukkan dalamnya ilmu beliau di dalam ilmu hadits dan fiqih.
Dan tidaklah berlebihan apabila saya katakan bahwa apa yang dia kerjakan dalam kitab ini lebih dari apa yang di kerjakan oleh Al hafidz Ibnu hajar dalam kitabnya “fathul Bari” dalam bab ini (tayammum)berupa penjelasan tentang kedudukan hadits dan penjelasan tentang kedudukan hadits dan tentang derjat (tingkatan) hadits. dan bukan maksud saya bahwa Al Akh faadhil Yahya ilmunya melebihi Al Hafidz (ibnu hajar) dalam ilmu hadits, akan tetapi Al Akh yahya lebih mutqin tentang apa yang dia tulis di dalam kitab syarah yang barokah ini,maksud saya “Syarah Al Muntaqa’ karya Ibnu Al Jaruud, dan barokah dari Allah dan semoga Allah membalas semuanya dengan kebaikan”.

5. Dan beliau (Syaikh Muqbil) berkata dalam muqoddimah kitab “Fathul Wahab” :…. dan di zaman ini kita sekarang, para ulama yang mereka berdiri di hadapan bid’ah-bid’ah ini, diantara mereka adalah Asy Syaikh Abdul Azis bin baaz, da ayah kita Asy Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani….
Dan di yaman sejumlah ulama yang diberkahi oleh Allah, Asy Syaikh Abdul Azis Al Buro’i,…..(lalu beliau menyebutkan sejumlah ulama yaman)…..dan diantara mereka adalah Asy Syaikh Al Faadhil As Sunni As Salafi yang terus menerus dars-dars (pelajaran-pelajaran) dan kitab-kitab beliau memerangi kebid’ahan, dan sesungguhnnya tulisan (kitabnya) ini berupa penjelasan tentang bid’ahnya mihrab adalah bukti terbesar atas hal itu. Dia adalah Asy syaikh Yahya bin Ali Al hajuuri, semoga Allah memberkahinya dan usahanya dalam memerangi kesyirikan dan kebid’ahan. Dan semoga Allah menolak/mencegah teradap diri kita dan dirinya segala kejahatan dan segala yang dibenci.”

6. Dan beliau (Syaikh Muqbil) berkata dalam tarjamah beliau, tatkala beliau menyebutkan murid-murid beliau, dan diantara mereka adalah “Asy Syaikh Yahya bin Ali Al Hajuuri, Abu Abdirrahman termasuk diantara yang hafidz Al Qur’an dan mustafied dalam berbagai cabang ilmu, dan saya telah mendengar sebagian pelajaran-pelajarannya yang menunjukkan istifadhahnya dan dia kuat dalam tauhid.”

7. Dan beliau (Syaikh Muqbil) berkata dalam muqoddimah kitab “Ash shuhu Asy Syariq”: “Saya kagum dengan dia, seorang bahits (orang yang mempunyai kemampuan dan kesehariannya membahas pemasalahan dari kitab-kitab para ulama) yang mengumpulkan catatan-catatan faedah,baik dalam fiqih,hadits dan tafsir.”
Dan maha benar Allah tatkala berfirman :
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian bertakwa kepada Allah, maka Allah akan menjadikan bagi kalian furqon (Untuk membedakan antara yang haq dan yang bathil)”
Dan Allah juga berfirman :
“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alllah dan berimanlah kepada RasulNya, maka Allah akan memberikan kepada kalian dua bagian dari rahmatNya dan menjadikan bagi kalian nur yang kalian berjalan diatasnya”.
Dan Asy Syaikh Yahya, Allah bukakan bagi dia karena sebab berpegang teguhnya dia dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah.”

8. Wasiat Syaikh Al Imam Al Allamah Al Mujahid Muqbil bin Hadi Al Wadi’i : “Dan saya wasiatkan kepada mereka (kerabat beliau dari penduduk dammaj) terhadap asy syaikh Yahya bin Ali Alhajuuri untuk berbuat baik dan agar jangan ridho dengan diturunkanya beliau dari kursi karena beliau adalah nashih amin (penasehat yang terpercaya)”

9. Dan berkata al akh Abdullah al maathir : “Dan sungguh saya pernah bertanya kepada asy syaikh Muqbil, dan kami demi Allah, tidak ada antara saya dengan beliau kecuali Allah, dan kami berada di kamar beliau diatas tempat tidur beliau yang beliau tidur diatasnya, kemudian saya katakan kepada beliau: “wahai syaikh, kepada siapa ikhwan ahlus sunnah di yaman merujukkan urusan-urusan mereka dan siapakah dia yang paling berilmu di yaman ?” maka syaikh muqbil terdiam sebentar dan berkata :”asy syaikh Yahya”
Ini yang saya dengar dari syaikh muqbil, dan bukanlah maksud disini bahwa kami menjatuhkanulama-ulama yaman,karena sesungguhnya kami memuliakan dan mencintai mereka karena Allah”
(dinukil dari “asy syaikh yahya fi suthur wa makanitihi inda imam wadi’i” hal 4″)

Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkholi

Berkata syaikh Rabi bin hadi yang dinukilkan oleh asy syaikh Abu Hamam Al Baydoni :”dan saya yakini (yang saya beragama kepada Alllah Azza wa jalla dengannya) bahwa, asy syaikh yahya adalah seorang ahu taqwa dan waro’ dan zuhud (dan beliau memuji asy syaikh Yahya) kemudian beliau mengatakan :”dan beliau telah memegang dakwah salafiyah dengan tangan besi dan tidaklah pantas (untuk memegangnya) kecuali dia dan orang-orang semisalnya. sampaikan salamku kepada Al Wushobi (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Al Wushobi) dan Al Hajuri (Asy Syaikh Yahya) dan saudara-saudaranya (Ahlus sunnah) dan katakan kepada mereka bahwa walau datang kepadaku siapapun dia, saya tidak akan mendengar kalam tentang mereka, (yang) menjelekkan mereka , sampai-sampai kalaupun mereka datang kepadaku dengan kalam sebesar gunung makkah, maka saya tidak akan membuka telinga saya untuk itu.. Bagaimana bisa saya berbicara terhadap orang yang menginjak dunia dengan kaki-kaki mereka sementara manusia berkumpul pada dunia tersebut, bahkan mereka mengusir jam’iyah hizbiyyah yang memecah belah umat dan mengusir bid’ah dan kemudian saya berbicara (menyudutkan mereka), ini tidak masuk akal.”
(ucapan ini disampaikan oleh syaikh Abu hammam Al Baydoni kepada Al Akh Abu Bilal Al hadromi melalui telepon. dan kasetnya ada di maktabah as salafiyyah di Al Hamy.dan jawaban syaikh Rabi’ ini terjadi beberapa bulan lalu pada tahun ini (1428H))

Mengabarkan kepada kami asy syaikh Abu hamam, berkata asy syaikh Al Allamah Rabi’ bin Hady: “saya tidak mengetahui satu tempat pun untuk ilmu seperti dammaj, hal itu dikarenakan seorang yang sholeh pergi ke dammaj dan tinggal dalam waktu yang singkat kemudian datang kepada kita dengan ilmu yang banyak”.)
Kemudian As Syaikh abu hammam berkata : “dan sekarang 17 sya’ban 1428 H beliau syaikh Rabi’ menulis sebuah kitab tentang para ulama besar yang telah terdahulu, bagaimana mereka dahulu menjaga sunnah dan beliau memperlihatkannya kepadaku, kemudian berkata :”ini saya tulis untuk orang-orang semisal tholibul ilmi di dammaj, karena sesungguhnya saya tidak mengetahui ada yang seperti mereka dalam menjaga sunnah”
Ini beliau (Abu Hammam) sampaikan lewat tulisan yang dia tulis di tempat pertama dari kitab majmu’ rasail tulisan asy syaikh Ahmad An najmi yang beliau kumpulkan dan bagi-bagikan

Berkata Al-Akh Samir sebagaimana dalam Risalah “Ahlu Jaddah” yang disampaikannya kepada Syaikh Yahya bin Ali : “Aku berkata kepada Syaikh Rabi’ bahwa pengikut Abul Hasan Al Mishri mengatakan bahwa di Yaman tidak ada ulama, maka Syaikh Rabi’ mengatakan :” Syaikh Muhammad, siapa dia ??? Syaikh Yahya , siapa Dia ??? dan selain dari keduanya dari saudara-saudara mereka”” (Nukilan dari Ibna’il Fadla, Sa’id bin Da’as Al Yafi’i)

Syaikh Muhammad bi Abdul Wahab Al Wushobi

Berkata asy syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Al Wushobi, sebagaimana hal ini dinukilkan oleh syaikh yahya dalam dars beliau, tatkala asy syaikh Muhammad berkata kepada beliau : “Dakwah salafiyah selalu diincar dan engkau wahai aba abdirrahman (Syaikh yahya) adalah orang yang pertama diincar.”
Dan beliau (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab) juga berkata: “….maka semoga Allah membalas asy syaikh Al Faadhil, Al Muhadits, Al faqih pengganti syaikh mjuqbil di markiznya dengan kebaikan atas yang dia berikan untuk dakwah.”

Syaikh Muhammad Al Imam

Syaikh Muhammad Al Imam berkata : “Tidak seorangpun yang mencela syaikh al allamah yahya bin ali Alhajuuri kecuali dia seorang yang jahil atau pengikut hawa nafsu” (dinuki dari risalah, “madza yanqimuuna yahya” hal 6″)
Syaikh Muhammad Al Imam berkata : “Tidaklah pantas untuk melakukan Jarh wa Ta’dil di zaman ini kecuali Syaikh Robi’ dan Syaikh Yahya”
(dinukil dari “asy syaikh yahya fi suthur wa makanitihi inda imam wadi’i” hal 5″)

Syaikh Abdul Azis Al Bura’i
Berkata asy syaikh Abdul Azis Al Bura’i : “Dan syaikh yahya adalah salah seorang pahlawan (singa) dari pahlawan-pahlawan (singa) sunnah, mahkota diatas kepala ahlus sunnah”
(dinukil dari kaset “jilsal ashabul qushai’ar” dan kasetnya ada di tasjilat darul atsar dammaj Yaman)
Berkata asy syaikh Abdul Azis Al Bura’i : “Dan kami menganggap bahwa barangsiapa yang berbicara terhadap Syaikh Yahya, maka dia telah berbicara terhadap kami (Para ulama Yaman) Dan barangsiapa yang berbicara terhadap Dammaj, maka dia telah berbicara terhadap kami semua”
(dinukil dari kaset “jilsal ashabul qushai’ar” dan kasetnya ada di tasjilat darul atsar dammaj Yaman)

Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi
Syaikh Ahmad An Najmi ditanya : “apa pendapat syaikh tentang orang yang berbicara terhadap para masyaikh (para ulama) berikut ini : Syaikh Rabi’ almadkholi, syaikh Muhammad bin abdul wahab al wushobi, Syaikh Yahya bin ali Al hajuuri ?”
Beliau menjawab : “Barangsiapa yang berbicara terhadap ahlus sunah dan para pembawa manhaj salafy, maka hal itu adalah dalil/bukti yang menunjukkan bahwa dia adalah seorang ahlul bid’ah. Dan para ulama tersebut, kita meyakini bahwa mereka adalah ahlus sunnah dan bermanhaj salafy, dan tidaklah kita mentazkiah mereka atas Allah azza wa jalla.Bahkan kita meminta kepada Allah kekokohan dan pemantapan bagi semua untuk setiap kebaikan. Dan kita bedoa kepada Allahyang maha agung untuk menjaga mereka dari setiap kejelekan dan dari hal-hal yang dibenci”
(sebagaimana dalam kitab “Al fatawa Al jaliyah anil manahij ad da’a.)

KARYA TULIS BELIAU

1-المبادئ المفيدة في التوحيد والفقه والعقيدة.
2-الصبح الشارق في الرد على ضلالات عبد المجيد الزنداني في كتابه توحيد الخالق.
3-الحجج القاطعة على أن الروافض ضد الإسلام على ممر الدهور بلا مدافعة.
4-أحكام الجمعة وبدعها.
5-توضيح الإشكال في أحكام اللقطة والضوال.
6-أحكام وآداب المسافرين.
7-أحكام التيمم.
8-حشد الأدلة على أن اختلاط الرجال بالنساء وتجنيدهن من الفتن المضلة.
9-فتح الوهاب في حكام البصاق في القبلة وحكم المحراب.
10-كشف الوعثاء بزجر الخبثاء الداعين إلى مساواة الذكر بالأنثى.
11-الأسئلة الشعرية
12-إتحاف الكرام بأجوبة الزكاة والحج والصيام.
13-فتوى حول الدراسة الاختلاطية.
14-الأجوبة السنية في كشف بعض أباطيل الصوفية.
15-نصيحة للتجار بالبعد عن نشر الأضرار.
16-الرياض المستطابة في مفاريد الصحابة.
17-النصيحة المحتومة لقضاة السوء وعلماء الحكومة.
18-اللُمع على كتاب إصلاح المجتمع.
19-كشف التلبيس والكذب في قول الصوفية لا يوجد شرك في جزيرة العرب.
20-شرعية الدعاء على الكافرين والرد على القرضاوي المهين.
21-إرشاد ذوي الفطن لما في الاختلاط الجامعي من الفتن.
22-تحذير النبلاء من التشبه بالنساء.
23-تربية البنين.
24-مشاهداتي في بريطانيا
25-أحكام الجنائز.
26-أحكام الهدي والأضاحي.
27-شرعية النصح والتحذ ير من دعاة التغرير.
28-الطبقات لما حصل بعد موت الوادعي من الحالات.
29-إرشاد ذوي الفطن لما في الاختلاط الجامعي من الفتن.
30-الوسائل الخفية لضرب الدعوة السلفية.
31-الثوابت المنهجيه.
32-جلسة ساعة في الرد على مفتي الإذاعة.
33-الأدلة الزكية في بيان أقوال الجفري الشركية.
34-السيل العريض الجارف لبعض ضلال الصوفي عمر بن حفيظ.
35-البدر التمام في رثاء شيخ الإسلام مقبل بن هادي الوادعي رحمه الله. له حفظه الله وجماعة.
36-الحث والتحريض على تعلم أحكام المريض.
37-تحقيق (مقدمة سنن الدارمي المسمى (العرف الوردي).
38-تحقيق (أخلاق العلماء للآجري.
39-تحقيق (وصول الأماني بأصول التهاني للسيوطي.
40-الأربعون الحسان في الاجتماع على الطعام.
41-شرح كتاب المنتقى.
42-التحذير من أهم الصوارف عن الخيرات.
43-قرة العينين بأجوبة فتاوى الصيادين. جمع وتعليق إحسان اللحجي.
44-الإتحافات بتلخيص الحاوي للسيوطي رحمه الله وبيان ما فيه من الشطحات.
45-شرح لامية ابن الوردي.
46-فتاوى القوات المسلحة.
47-فتوى في خروج المرأة للدعوة إلى الله.
48-فتاوى الأطباء والطب.
49-الإفتاء للأسئلة الواردة من دول شتى.
50-استخراج الأحاديث المعلة من السنن الكبرى للبيهقي.
51-الرد على أحمد بن نصر الله , في انتقاداته على كتاب الصحيح المسند.
52-فهرسة علل الدارقطني.
53-اختصار البداية والنهاية.
54-صالح البكري المفتون.
55-تحقيق فتح الباري شرح صحيح البخاري. له حفظه الله مع مجموعة من الطلاب.
56-تحقيق رسالة ما لا يثبت فيه حديث، للفيروزآبادي.
57-تحقيق سنن البيهقي الصغرى.
58-شرح الأصول الثلاثة.
59-شرح العقيدة الواسطية.
60-شرح البيقونية.
61-شرح التقريب والتيسير لمعرفة سنن البشير النذير.
62-شرح العقيدة الطحاوية.
63-شرح الرسالة الوافية.
64-شرح كتاب التوحيد.
65-شرح ملحة الإعراب.
66-شرح وتحقيق مقدمة سنن الدارمي.
67-لامية شيخ الإسلام.
68-شرح القيروانية.
69-شرح السفارينية.
70-شرح الأربعين النووية
71-التبيين لجها لات الدكتور احمدبن نصر الله
Dinukil dari my.opera.com/infodammaj

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: