Posted by: abuusamah88 | March 26, 2010

Earth Hour 2010

Bismillahir Rahmaanir Rahiim

Untuk kawan semua, sekedar mengingatkan besok tgl 27 Maret 2010 yang merupakan sabtu terakhir di bulan maret ini juga merupakan waktu salah satu event yang menunjukkan kepedulian kita terhadap Bumi kita tercinta ini. Event tersebut adalah Earth Hour 2010.
Sejak tahun 2007 orang – orang dari berbagai negara ikut serta dalam kegiatan Earth Hour yang intinya adalah usaha simbolik untuk mengurangi penggunaan energi terutama listrik sebagai salah satu cara untuk mencegah perubahan iklim yang beberapa tahun belakangan ini semakin terasa.
Hanya satu jam tanpa menggunakan lampu atau peralatan listrik lainnya, tentu tidak akan berat Insya Allah. Dengan 1 jam itu kita bisa menggunakannya untuk berjalan – jalan bersama keluarga keliling lingkungan, atau mungkin sekedar duduk – duduk di halaman dan melihat indahnya langit malam. Setidaknya selama 1 jam itu kita bisa kembali merenungi apa saja yang telah Bumi berikan kepada kita dan apa balasan kita terhadap Bumi tempat kita tinggal ini.
Earth Hour pada dasarnya merupakan kampanye simbolik untuk menunjukkan sekaligus menyadarkan kita untuk bisa mengontrol diri, terutama dalam penggunaan sumber daya yang ada. Walaupun simbolik, namun Earth Hour sangat bermanfaat untuk kembali menyadarkan diri kita sekaligus untuk menunjukkan bahwa kita peduli terhadap kelestarian Bumi ini agar anak cucu kita dapat mewarisi Bumi minimal sesuai kondisi saat kita mewarisi Bumi ini dari pendahulu kita.

Untuk berpartisipasi dalam Earth Hour 2010 cukup mudah, caranya dengan mematikan lampu atau peralatan listrik lainnya selama satu jam mulai pukul 20:30 malam hingga pukul 21:30.
Kepada seluruh pembaca blog ini, ayo sejenak ikut serta dalam kampanye global untuk mencegah global warming esok, namun ingat usaha pelestarian lingkungan tidak semudah hanya dengan mematikan lampu selama satu jam saja, tetapi lebih dari itu usaha pelestarian lingkungan merupakan cara bagaimana kita bisa menghargai Bumi yang di berikan Allah ‘Azza Wa Jalla kepada kita dengan berbagai cara.

Posted by: abuusamah88 | November 19, 2009

21 Tahun

21 Tahun*

Alhamdulillah, hari ini Allah Subhana Wa Ta’ala masih mengizinkan ruh diriku untuk bersama dengan jasadku sehingga bisa dikatakan secara jasmani diriku masih hidup. Tahun – tahun berlalu dengan cepatnya seakan berlari dan bersamaan dengan itu pula semakin dekatlah diriku dengan Sakratul Maut yang diistilahkan oleh baginda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam sebagai “sang penghancur kenikmatan”. Saat ketika ruh ini meninggalkan jasad sekaligus dunia yang fana ini untuk menuju ke kehidupan kedua berupa alam barzakh.

Seorang Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah pernah ditanya tentang ruh dan jasad manusia, apakah ruh yang mengikut jasad atau sebaliknya pada kehidupan dunia? Syaikhul Islam menjawab bahwa ruh lah yang mengendalikan jasad walaupun kehidupan dunia merupakan kehidupan bagi ruh dan jasad dan berbeda dengan kehidupan di alam barzakh yang merupakan kehidupan bagi ruh sedang jasad akan hancur terurai. Ketika ruh ini berangkat meninggalkan jasad maka seketika itu pula jasad tidak dapat berbuat apa – apa. 1 tahun berlalu dan telah semakin dekat saat dimana ruh ku kan meninggalkan jasad ini.

21 tahun usia yang cukup tua menurutku dulu. Bukankah Usamah Ibn Zaid Radhiyallahu’anhu dijadikan pimpinan pasukan untuk memerangi Syam di awal usia 20 – an sedangkan di dalam pasukannya ada Abu Bakr dan Umar Radhiyallahu’anhuma. Demikian juga banyak sahabat lain dibebankan amanah yang sedemikian besar oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam di saat memasuki usia 20 tahunan. Sebut saja Imam Ali, Mus’ab ibn Umair, Muadz Ibn Jabal dan Ja’far Ibn Abi Thalib sang pemilik 2 sayap.

Ya Islam mencontohkan bahkan menganjurkan untuk memberdayakan pemuda karena di pundak mereka lah tongkat estafet perjuangan Islam kelak akan diserahkan. Tapi diriku yang sudah memasuki usia 21 tahun ini apakah sudah mampu jika dipercayakan amanah yang berkaitan dengan umat? Secara tegas diriku akan menjawab “tidak!”. Bukan, jawaban ini bukanlah bentuk pelarian dari tanggung jawab sebagai generasi muda Islam. Itulah kondisi sesungguhnya. Bagaimanakah diriku mau diserahkan beban amanah yang kelak harus dipertanggung jawabkan dihadapan Rabbul ‘Alamin jika berbohong saja diriku masih terkadang melakukannya, belum lagi sikap menunda – nunda pekerjaan dan sikap malas yang ada di dalam diriku.

Bagaimana pula diriku bisa diserahkan beban amanah jika ilmu agama saja masih minim bahkan bisa dikatakan hampir tidak ada, padahal ilmu tersebut akan menjadi pemandu dalam membedakan antara yang baik dan buruk, antara yang Haq dan batil antara yang boleh dilakuka dan yang tidak seharusnya dilakukan oleh seorang Muslim dan seorang pengemban amanah.

Dulu ketika SMA diriku pernah berangan – angan akan menikah dan membina keluarga yang Islami di usia 21 tahun. Namun inilah diriku saat ini berusia 21 tahun. Apakah ku kan berani mewujudkan angan – angan tersebut? Sekali lagi aku kan menjawa “tidak”. Beberapa hari yang lalu diriku mendapatkan kabar yang menggembirakan dari salah satu akhwat yang berusia sama dengan diriku bahwa dirinya akan menikah pada tanggal 5 Desember ini. Subhanallah, diriku cukup kaget mendengar berita ini, walau sebelumnya akhwat lain telah mengabarkan hal ini namun tetap saja kabar ini sangat menggembirakan. Sekitar 1 tahun yang lalu salah satu ikhwan yang hanya 1 tahun lebih tua dari diriku juga melangsungkan walimahan. Ingin rasanya diri ini segera menyusul mereka, tapi apa daya diriku belum sanggup. Belum sanggup dari sisi ilmu agama adalah yang paling penting. Seorang suami akan menjadi Imam bagi keluarganya yang akan dimintakan pertanggung jawaban oleh Allah Subhana Wa Ta’ala atas amanah yang diberikan oleh Allah Subhana Wa Ta’ala berupa keluarga yang telah diperintahkan oleh Allah Subhana Wa Ta’ala untuk dijaga dari api neraka yang bahan bakarnya dari batu dan manusia.

Bagaimana diriku bisa menjaga keluarga ku dari api neraka jika diriku saja masih banyak berbuat dosa bahkan menjahr-kan dosa yang telah kuperbuat karena kebodohan diriku. Faktor kedua adalah karena faktor ekonomi. Kasarnya seperti yang diucapkan oleh Umiku ketika dulu diriku menyampaikan cita – cita untuk menikah di usia 21 tahun, “Mau kamu kasih makan apa anak dan istri mu nanti?”. Bukankah seorang suami di dalam Islam memiliki kewajiban untuk memberikan nafkah lahir dan batin terhadap keluarganya. Nafkah batin mungkin sebagian kecil telah bisa kutunaikan bersamaan dengan telah baligh nya diriku. Namun nafsu batin lainnya berupa keamanan, kestabilan emosi kita dan sebagainya serta nafkah lahir berupa tunjangan untuk pemenuhan kebutuhan sandang, pangan dan papan, apakah saat ini diriku sudah siap? Tentu saja belum.

Jadi tentu saja diriku tidak bisa mewujudkan keinginan untuk menikah di usia 21 tahun ini, disamping juga diriku masih ingin membahagiakan kedua orang tuaku yang telah banyak kuberbuat salah pada keduanya. Diriku takut jika diriku menikah terlalu cepat diriku akan disibukkan oleh urusan istri dan anakku sehingga mengabaikan mereka berdua.

Mungkin satu yang harus terwujud di usia 21 tahun ini, yaitu kuliah ku harus selesai. Skripsi ku harus segera kuselesaikan agar bisa menjadi kado pertama yang bisa kuberikan untuk kedua orangtuaku dan semoga bisa juga menjadi kado bagi Umat yang terus dilanda cobaan ini. Oleh karena itulah diriku memutuskan untuk mengambil tema mengenai wakaf sebagai salah satu bentuk filantropi Islam yang sesungguhnya modal untuk pengentasan kemiskinan dan mewujudkan keadilan sosial bagi mustadh’afin.

21 tahun hidupku telah berlalu. 21 tahun penuh pelajaran kehidupan yang sangat berharga. 21 tahun penuh kenangan di tengah keluarga yang luar biasa dan sahabat yang tidak dapat kulupakan. 21 tahun tuk belajar demi menyongsong masa depan di dunia maupun di akhirat.

Dalam 21 tahun hidupku ini kutelah banyak mengambil banyak pelajaran berharga dari banyak orang. Pelajaran yang tidak akan pernah ku dapatkan di dalam ruang kelas. Pelajaran tentang nilai – nilai agama dan hidup. Terima kasih untuk Mbah Kakung (walaupun diriku tidak pernah sempat berjumpa dengan mu tapi cerita akan keteladanan sikap mu yang kudengar tidak hanya dari keluarga tapi juga dari banyak orang yang mengenal mu menjadi pelajaran yang sangat berharga dan inspirasi bagi hidupku), Mbah Ti;  Mbah Marni (cerita – cerita mu kan selalu kukenang tuk kuambil keteladanannya); Abi dan Umi (yang perbuatan keduanya serta wejangannya kan selalu menjadi teladan bagi diriku); Bude Tri, Om Nug dan Tante Ria (Tempat berbagi cerita yang selalu menghasilkan solusi bagi permasalahan yang kuhadapi); Mas Reno dan Dek Tio (saudara kandung sekaligus teman paling luar biasa yang pernah kutemui); Bule Tati (saat – saat belajar mengaji dengan dirinya lah yang membuat diriku terus ingin belajar tentang Islam); Bu Nia, Bu Djumini, Bu Devti, Bu Marlina, Bu Sukorini, dan semua guru – guruku yang tidak hanya mengajarkan pelajaran regular saja tapi juga menjadi mengajarkan ketauladanan bagi murid – muridnya baik dalam perbuatan maupun wejangan – wejangannya; Para Asatidzah dimana diriku menimba ilmu agama dari mereka; dr Bambang Edi dan segenap ikhwan dan akhwat BSMI Yogya yang mengajarkan pada diriku arti dari berkorban dan mebela mustad’afin; para ikhwan seperjuangan, Akh Fadli, Rengga, Angga, Gilang, Meindro, Muhammad, Mas Rifa’I, Mas Toto, Kukuh, Royyan, Athaya dan ikhwan lainnya terima kasih karena masih mau dan tetap menasehati diriku walau seringkali diriku sulit untuk dinasehati.  Rani, Santi, Iqbal, Hiro, Seno, Andhika dan seluruh teman – teman ku. Terima kasih karena telah mengisi hidupku. Terima Kasih karena telah memberikan pelajaran berharga bagi diriku.

Terima Kasih Allah karena masih memberikan kesempatan bagi diriku tuk hidup di dunia ini. Ku berjanji Insya Allah tahun depan jika kau masih mengkehendaki diriku tuk hidup ku kan berusaha menjadi insane yang lebih baik dari saat ini. Insya Allah.

 

*Beberapa teman mengira milad ane tgl 19 Nov, tapi yang bener 20 Nov. Tapi Jazakallah khairan atas ucapan selamat dan doanya. Jadi masih 2 jam lagi tapi ane pos duluan biar gak tidur kemaleman jadi gak ketinggalan Jama’ah Subuh lagi.

 

Posted by: abuusamah88 | November 19, 2009

Ayo Bangkit BSMI Yogya!

Ayo Bangkit BSMI Yogya!*

“Bheti bisa merasakan semangat teman – teman, semoga ini bisa menjadi awal kebangkitan BSMI setelah lama berhibernasi”, Ucap dr. Bheti beberapa hari lalu. Mungkin ini juga harapan dari semua pengurus dan anggota BSMI Yogyakarta, agar BSMI Yogya bisa kembali banyak berkontribusi untuk Umat. Harapan – harapan yang selalu keluar dari lisan – lisan para pengurus dan anggota yang Insya Allah didorong oleh kegelisahan hati dan keikhlasan. Kegelisahan karena beban amanah di atas pundak – pundak mereka yang bertanggung jawab atas kelangsungan BSMI yang lahir dari rahim Umat untuk Bangsa Indonesia. Memang kondisi BSMI Yogyakarta selama 2 tahun belakangan bisa dibilang berada di dalam kondisi berhibernasi sebagaimana istilah dr. Bheti atau dalam istilah salah satu akhwat pengurus BSMI, “gaung BSMI Yogya tidak terdengar lagi”.

Tidak dapat dipungkiri faktor keikhlasan dalam beramal dan membantu sesama merupakan hal yang sangat penting bagi kelangsungan organisasi sosial semacam BSMI, dan tidak dapat dipungkiri keikhlasan para pengurus dan anggota BSMI Yogya demi membesarkan BSMI sekaligus untuk membantu sesama insan ciptaan Allah Subhana Wa Ta’ala serta berdakwah fisabilillah juga begitu besar, Bukankah baginda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam yang menjadi qudwah bagi segenap umat Islam bersabda, yang diriwayatkan oleh sahabat Umar Ibn Al Khaththab Radhiyallhu’anhu, “Setiap amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang mendapatkan sesuai dengan yang diniatkannya” (HR Bukhari dan Muslim). Keikhlasan yang juga dicontohkan oleh pimpinan BSMI baik di level pusat seperti yang dicontohkan oleh dr. Basuki Supartono dan istrinya dr. Prita yang tanpa kenal lelah terus membantu sesama sambil terus berdakwah fisabilillah bahkan keduanya berulang kali membantu sesama dimana saja, masih ingatkah kita serangan Israel ke Lebanon dan kemudian ke Gaza yang membuat keduanya tidak tinggal diam dan langsung terlibat membantu mereka yang menjadi korban kebiadaban Israel. Maupun dicontohkan oleh ketua BSMI Yogya sendiri, dr. Bambang Edi yang sangat banyak berkorban tidak hanya bagi BSMI tapi juga bagi Umat dan bangsa Indonesia walaupun kondisi kesehatan beliau mulai menurun.

Namun tidak bisa dipungkiri juga kondisi internal BSMI Yogya sendiri terkadang memang membuat para ikhwan dan akhwat pengurus dan anggota BSMI Yogya menjadi sedikit frustasi. Kelemahan dalam hal manajerial dan koordinasi seringkali menghambat niat baik dari para ikhwan dan akhwat di dalam BSMI untuk membantu umat. Tidak kah kita menghitung berapa program kerja yang tidak memiliki kejelasan hingga sekarang, dari Departemen Hubungan Masyarakat dan Hubungan antar Lembaga setidaknya ada 2 program yang tidak jelas, yaitu road show BSMI Yogya 2009, Pelatihan kehumasan dan fundraising padahal tahun 2009 sudah hampir berakhir. Tidak kah kita menyadari bahwa Bidang PSDM BSMI Yogya bisa dikatakan mati suri dan bahwa Bidang Khusus Pengembangan Klinik Sosial yang rencananya membuka klinik bekerja sama dengan LAZIS Masjid Syuhada masih saja belum menunjukkan kejelasan?

Salah satu akhwat anggota BSMI Yogya pernah bertutur ke dr. Bambang, “Pak kok saya merasa hanya mendapat sedikit manfaat dari BSMI”. Mungkin itu juga yang dirasakan oleh sebagian ikhwan dan akhwat di dalam BSMI. Namun seharusnya pertanyaan tersebut pertama kali harus ditujukan kepada diri kita masing – masing, sudah seberapa besar pengorbanan kita untuk BSMI dan untuk umat? Dan seberapa besar keikhlasan kita dalam berkorban?

Salah satu firman Allah Subhana Wa Ta’ala berbunyi, “Barangsiapa mengerjakan kebajikan, dan dia beriman, maka usahanya tidak akan diingkari (disia-siakan), dan sungguh, Kamilah yang mencatat untuk-Nya ” (QS Al Anbiya: 94). Ketika kita sebagai Muslim membaca ayat ini, bukankah selayaknya kita semakin bersemangat dalam berbuat kebajikan, karena Allah Subhana Wa Ta’ala berjanji tidak akan mengingkari perbuatan baik kita dan Allah Subhana Wa Ta’ala tidak akan mengingkari janji-Nya.

Tidakkah selayaknya bagi ikhwan dan akhwat BSMI Yogya untuk menjadikan Al Qur’an sebagai penghibur di saat galau hati dalam menghadapi kondisi BSMI secara khusus maupun Umat secara umum. Bukankah Allah Subhana Wa Ta’ala juga berfirman, “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki – laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS An Nahl : 97). Seharusnya ayat ini menjadi kabar gembira bagi kita pengurus dan anggota BSMI. Bukankah memberikan pengobatan murah, khitanan masal, membantu korban gempa dan menolong mustadh’afin merupakan amal saleh menurut Islam? Bukankah berdakwah dengan perbuatan juga merupakan amal saleh? Dan bukankah menghimbau Umat untuk membantu sesama yang kesulitan juga amal saleh? Lantas mengapa kita patah semangat? Bukankah justru kita bergembira dengan perbuatan kita walaupun kita mungkin belum merasakan manfaat dari perbuatan kita, tapi bukankah Allah Subhana Wa Ta’ala berjanji tidak akan menyia – nyiakan amal saleh kita dan masih pula ditambah dengan janji Allah Subhana Wa Ta’ala untuk memberikan kehidupan yang baik bagi kita serta pahala yang lebih baik dari perbuatan yang kita lakukan.

Ya kita tidak boleh berputus asa atau patah semangat, bahkan kita tidak berhak untuk berputus asa atau patah semangat kita justru harus bergembira dan terus memperbaiki niat (keikhlasan) kita serta tentu saja memperbaiki kualitas dan kualitas pengorbanan kita tidak hanya untuk BSMI Yogya tapi untuk Umat. Ada beberapa cara yang bisa kita bersama lakukan untuk memperbaiki BSMI Yogya. Pertama perbaiki niat kita agar kita tetap ikhlas dalam beramal sehingga tidak habis atau sia – sia amal kita karena riya’ atau sum’ah. Baginda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam telah memperingatkan kita bahwa riya’ akan membakar amalan kita sebagaimana api membakar kayu dan Allah Subhana Wa Ta’ala akan membuat orang yang sum’ah menjadi terkenal perbuatan baiknya namun tidak mendapat imbalan di sisi Allah Subhana Wa Ta’ala. Dan tentu saja agar perbuatan kita dapat bermanfaat tidak hanya bagi BSMI tetapi juga bagi Umat.

Perbaikan kondisi kita ini tentu saja membutuhkan amal. Kerja keras dari segenap ikhwan dan akhwat di dalam BSMI agar BSMI dapat menjadi lebih baik. Tidakkah kita teringat dengan salah satu firman Allah Subhana Wa Ta’ala. Yang Allah Subhana Wa Ta’ala memperingatkan kepada orang yang beriman bahwa Allah Subhana Wa Ta’ala tidak akan mengubah kondisi suatu kaum kecuali jika kaum tersebut berusaha untuk merubahnya. Memang sulit untuk merubah suatu keadaan, apalagi untuk merubah dari keadaan yang buruk menjadi keadaan yang lebih baik. Namun bukankah Allah Subhana Wa Ta’ala juga berfirman, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS Al Baqarah : 286) sehingga tidaklah ada alasan bagi kita untuk patah semangat dengan beban keadaan ini.

Istiqomah dalam beramal. Ya memang istiqomah adalah perkara yang sangat berat yang baginda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam telah menyatakannya dalam salah satu hadits. Namun beliau Shalallahu ‘alaihi wa salam juga menghibur orang – orang yang istiqomah dengan imbalan yang baik di sisi Allah Subhana Wa Ta’ala. Istiqomah dalam menapaki jalan perjuangan kita ini memang sulit, tapi yakinlah bahwa perjuangan kita tidak akan sia – sia bahkan perjuangan tersebut akan membuahkan hasil yang baik bagi kita dan tentu saja bagi BSMI dan Umat.

Bertakwa kepada Allah Subhana Wa Ta’ala. Kita tentunya seringkali mendengar tausiah dari para asatidzah bahwa untuk mendapatkan suatu hasil kita harus berusaha dan berdoa. Doa merupakan wujud takwa kita kepada Allah Subhana Wa Ta’ala. Jika kita telah memperbaiki niat kita dalam beramal dan telah berusaha sekuat tenaga untuk merubah kondisi BSMI saat ini maka sekarang saatnya kita berdoa dan bertawakal kepada Allah Subhana Wa Ta’ala agar usaha kita bisa berbuah hasil yang baik, atau jika Allah Subhana Wa Ta’ala belum berkehendak kita memetik hasil perjuangan kita di dunia, Insya Allah, hasilnya akan kita petik di akhirat. Allah Subhana Wa Ta’ala berfirman, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya” (QS Ath Thalaq : 2)

Sebagai penutup agar kita tetap terus bersemangat dalam menunaikan amanah yang ada di atas pundak kita, ada sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Anas Ibn Malik Radhiyallahu’anhu dari baginda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam yang berbunyi, “Tidak sempurna Iman seseorang yang tidak memiliki amanah” (HR Ahmad).

Ya Akhi, Ya Ukhti ayo terus berjuang kebangkitan BSMI Yogya adalah amanah dari Umat yang telah melahirkan BSMI kepada kita!

 

Pagi hari yang dingin,

Yogya 19 November 2009

 

Rendy Sabardi

 

*Tulisan ini hanya berupa nasihat dan penyemangat, semoga kebangkitan BSMI Yogya tidak sekedar angan belaka namun bisa terwujud secara nyata. Insya Allah harapan untuk bangkitnya BSMI Yogya akan tetap ada.

Posted by: abuusamah88 | November 24, 2008

Jangan Gampang Memvonis Mati Syahid

JANGAN GAMPANG MEMVONIS MATI SYAHID

Penulis: Al Ustadz Qomar ZA, Lc (Mudhir Ma’had Darul Atsar Temanggung dan pemimpin redaksi majalah Asy Syariah )

Eksekusi ‘Syahid’?

Pelaksanaan eksekusi pada hari Ahad dini hari tanggal 9 November 2008 M atas tiga aktor bom Bali I, Imam Samudra, Amrozi dan Mukhlas, mengundang perhatian banyak kalangan dari seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya nasional bahkan internasional. Hal inilah yang mengundang mereka berkomentar, baik atas pelaksanaan eksekusi tersebut maupun atas kematian mereka dengan eksekusi itu, kontroversipun terjadi, sebagian pihak menyanjung mereka, sebagian pihak membenarkan hukuman eksekusi tersebut, sementara yang lain menentangnya. Kontroversi semacam ini terjadi karena masing-masing menilai dari sudut pandang yang berbeda, sehingga wajar saja kalau mereka berselisih pendapat, karena dasar berpendapatnya saja berbeda.

Sayang, tak sedikit dari umat Islam dengan status sosial yang berbeda-beda, turut pula ramai-ramai ikut andil berkomentar dalam peristiwa ini. Mereka tidak memandangnya dari sudut pandang ajaran Islam yang murni, bahkan cenderung menggunakan perasaan, apakah dengan perasaan kasihan, atau sebaliknya semata-mata dengan perasaan benci dan marah, sehingga muncullah hasil yang berbeda karena berlandaskan perasaan yang berbeda. Sebagian lagi membubui penilaiannya dengan pengetahuan tentang ajaran Islam yang minim dan yang sudah tercampur dengan gaya berpikirnya para korban eksekusi, sehingga tak segan-segan memastikan mereka sebagai syahid, pahlawan, pasti senang di surga, di sorga dibawa oleh burung hijau, disambut para bidadari dan pujian-pujian semacam itu.

Tak pelak lagi, kejadian-kejadian paska pelaksanaan sampai pada penguburan-pun dikait-kaitan dengan vonis ‘kebahagiaan’ di atas, ada yang bilang bahwa jenazahnya wangi, mukanya tersenyum, cuaca mendadak menjadi mendung, disambut burung belibis hitam – yang diartikan bidadari menjelang penguburan pertanda jenazah mereka diterima Allah – dan hal-hal semacam itu. Bahkan lebih parah, sebelum pelaksanaan eksekusi pun sudah dikomentari bahwa mereka bakal dapat bidadari. Subhanallah…

Sekilas saya membaca komentar-komentar semacam itu, membuat saya terpanggil untuk menulis makalah ini, tak lain tujuannya adalah untuk berupaya meluruskan cara berpikir kaum muslimin sehingga tidak bermudah-mudahan untuk mengeluarkan vonis positif atau negatif, terlebih dalam urusan semacam ini yang lebih sarat dengan urusan ghaib, urusan akhirat yang hanya di sisi Allah Ta’ala sajalah pengetahuannya.

Ya, tak sedikit mereka yang telah menjadi korban ‘komentar tanpa ilmu’, sehingga jangan dianggap angin lalu. Semua ucapan yang kita ucapkan dicatat oleh para malaikat dan menjadi dokumen pribadi kita, untuk kemudian akan kita pertanggung jawabkan di sisi Allah Ta’ala kelak.

“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” [Qoof:18]

Perlu dicamkan, bahwa urusan nasib seseorang di akhirat itu bukan urusan kita, bahkan itu urusan ghaib yang hanya Allah Yang Maha Tahu yang memiliki pengetahuan tentangnya. Sehingga seseorang yang mengatakan bahwa mereka itu syahid, berarti ia – tanpa ilmu – telah menvonisnya pasti masuk ke dalam surga, ya, pasti tanpa ilmu, karena hanya Allah Ta’ala sajalah yang mengetahui nasib mereka dia akhirat kelak.

Wahai kaum muslimin, kita mesti mengingat firman Allah Ta’ala:
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” [Al-Isra’:36]

Janganlah karena dorongan emosional, lalu kita berbicara tanpa ilmu yang berakibat mencelakakan kita sendiri.

Dahulu di zaman Nabi sempat muncul beberapa kejadian yang membuat sebagian sahabat mengeluarkan vonis kebahagiaan di akhirat kepada beberapa sahabat yang lain, namun dengan segera Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menampik persaksian mereka itu, karena hal semacam ini tidak ada yang tahu termasuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kalaulah tanpa berita wahyu dari langit Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan mengetahui.

Suatu ketika seorang sahabat mulia Utsman bin Madz’un meninggal dunia, segeralah seorang wanita mempersaksikan baginya kemuliaan di Akhirat, namun dengan segera Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menukas persaksiannya. Kisah berharga tersebut termaktub dalam kitab Shahih Al-Bukhari, bahwa seorang wanita bernama Umul ‘Ala, wanita Anshor yang pernah berbaiat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkisah bahwa saat itu dibagikan undian orang-orang muhajirin, maka kami mendapatkan bagian Utsman bin Madz’un sehingga kami menempatkannya di rumah kami, tapi ia dirundung sakitnya yang menyebabkan kematiannya, maka ketika beliau wafat dan dimandikan lalu dikafani dengan kain kafannya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk, aku-pun mengatakan,
“Rahmat Allah atas dirimu wahai Abu Saib (Utsman bin Madz’un), persaksianku terhadap dirimu bahwa Allah telah memuliakan dirimu”, maka serta merta Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Darimana kamu tahu bahwa Allah telah memuliakannya”. Akupun mengatakan, ”Ayahku sebagai tebusanmu Wahai Rasulullah, lalu siapa yang Allah muliakan?” Rasulullah menjawab: ”Adapun dia maka telah datang kematiannya, demi Allah aku benar-benar berharap untuknya kebaikan, demi Allah saya sendiri tidak tahu -padahal aku ini adalah utusan Allah- apa yang nantinya akan diperlakukan terhadap diriku”. Umul ‘Ala mengatakan: Demi Allah aku tidak lagi memberikan tazkiyah (persaksian baik) setelah itu selama-lamanya.

Coba renungi kisah ini, siapakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, siapakah Utsman bin Madz’un dan siapakah Umul ‘Ala.

Adapun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka sudah jelas bagi kita siapakah beliau, adapun Utsman bin Madz’un maka beliau termasuk orang–orang yang pertama masuk Islam (as-sabiqunal awwalun) Ibnu Ishaq menyebutkan bahwa beliau adalah orang yang ke 14 dalam masuk Islam, beliau ikut hijrah ke Habasyah (Ethiopia) bersama anaknya, beliau termasuk pasukan perang Badar. Demikian biografinya sebagaimana disebutkan Ibnu Hajar dalam kitab al-Ishabah. Ummu ‘Ala sendiri adalah Shahabiyyah (sahabat wanita) yang mulia periwayat hadits Nabi, dan salah seorang wanita yang berbai’at kepada Nabi, siap untuk tunduk patuh kepada titahnya.

Marilah kita renungkan, seorang wanita mulia bersaksi atas kebahagiaan seorang lelaki yang hidupnya penuh dengan perjuangan besar, namun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghentikan persaksiannya, lebih daripada itu, beliau tegaskan bahwa beliau sendiri sebagai seorang Rasul tidak mengetahui nasib dirinya.
Sementara di waktu lain, Aisyah radhiyallahu ‘anha juga pernah bersaksi atas kebahagiaan di akhirat untuk seorang anak kecil yang meninggal dunia. Diriwayatkan sbb :

Dari Aisyah Ummul Mukminin, ia berkata bahwa Rasulullah pernah diminta untuk menyolati jenazah seorang anak dari Al-Anshor, maka aku katakan: ”Wahai Rasulullah beruntung anak ini, (ia menjadi seekor) burung ushfur dari burung-burung ushfur di dalam Surga, ia belum berbuat kejelekan sama sekali dan belum menjumpainya. ” Nabi menjawab: ”Atau (bahkan) selain itu, wahai Aisyah, sesungguhnya Allah menciptakan untuk surga penghuninya, Allah ciptakan mereka untuk surga sejak mereka berada pada tulang sulbi ayah-ayah mereka, dan Allah menciptakan untuk neraka penghuninya Allah menciptakan mereka sejak mereka dalam tulang sulbi ayah-ayah mereka. ” [Shahih HR Muslim]

Ya, seorang bocah yang masih suci belum melakukan kejelekan dan belum menjumpainya sebagaimana tutur Aisyah, dan ia adalah seorang anak sahabat Anshor sehingga ‘Aisyah-pun bersaksi atas kebahagiaannya. Ternyata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap menegur ‘Aisyah atas persaksiannya, mengapa? Sebagian ulama mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri waktu itu belum tahu tentang nasib anak-anak muslim itu. Ulama yang lain mengatakan –atas dasar bahwa anak muslim nantinya bakal di surga dan itu telah disepakati ulama– bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin melarang ‘Aisyah untuk terburu-buru memastikan sesuatu tanpa ada dalil yang pasti. Hal itu karena ini adalah urusan ghaib, urusan akhirat yang hanya di Tangan Allah dan manusia tidak tahu-menahu tentangnya.

Bahkan dalam kejadian lain, di sebuah perjalanan peperangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beberapa sahabat sempat memvonis surga bagi seseorang yang mati di sela-sela perjalanan itu, diriwayatkan,
Dari Abu Hurairah ia berkata: Kami keluar bersama Nabi menuju ke Khaibar, maka Allah memenangkan kami, dan kami tidak mendapat rampasan perang berupa emas, ataupun perak, tapi kami mendapatkan rampasan berupa barang-barang, makanan dan pakaian. Lalu kami beranjak ke sebuah lembah, dan bersama Rasulullah seorang budak, beliau diberi oleh seorang dari bani Judzam, panggilannya Rifa’ah bin Zaid dari bani Dhobib, maka ketika kami singgah di lembah itu budak tersebut bangkit untuk melepaskan bawaan tunggangannya, ternyata dia dilempar panah sehingga itu menjadi sebab kematiannya, kamipun mengatakan: “Berbahagialah dia dengan pahala syahid, wahai Rasulullah.” Rasulullah mengatakan: “Sekali-kali tidak, demi yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sesungguhnya kainnya akan menyalakan api padanya, ia mengambilnya dari rampasan perang pada perang Khaibar dan belum dibagi.” Abu Hurairah berkata: ”Maka orang-orang sangat takut sehingga ada seorang yang menyerahkan satu tali sandal atau dua tali sandal dan mengatakan, “Wahai Rasulullah, kami mendapatkannya pada perang Khaibar,” maka Rasulullah bersabda: “Satu atau dua tali sandal dari neraka.”. ”

Para sahabat mempersaksikan kesyahidan untuk budak tersebut, budak yang membantu Nabi, berjuang bersama beliau, meninggal dalam perjalanan perang yang tentu semuanya itu sebenarnya adalah jihad fi sabilillah. Namun dengan tegas Nabi membantah persaksian mereka, bahkan diiringi dengan sumpah dengan nama Allah, dan bahwa pelanggarannya berupa mencuri selembar kain sebelum dibagi-bagikan menghalanginya untuk mendapatkan kemuliaan syahid, ya, hanya karena selembar kain yang dia curi…

Yang lebih membuat tercengang para sahabat adalah peristiwa lain dimana Nabi bersaksi neraka terhadap seseorang yang berjuang keras dalam berjihad. Imam Al-Bukhari meriwayatkan,
Dari Sahl bin Sa’ad ia mengatakan: Bahwa Rasulullah bertemu dengan orang-orang musyrik sehingga mereka saling menyerang, maka tatkala Rasulullah menuju ke kampnya, dan yang lain juga menuju ke kamp mereka, sementara di antara para sahabat Nabi ada seseorang yang tidak membiarkan seorangpun (dari musyrikin-pent) yang lepas dari regunya kecuali dia kejar dan dia tebas dengan pedangnya. Akhirnya para sahabat mengatakan: “Tidaklah seorangpun dari kita pada hari ini mencukupi seperti yang dicukupi Fulan itu.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Sesungguhnya dia termasuk penduduk Neraka” (dalam sebuah riwayat): Maka para sahabat mengatakan: “Siapa diantara kita menjadi penghuni Al-Jannah, bila dia saja termasuk penghuni An-Nar ?”
Maka seseorang diantara orang-orang mengatakan: Aku akan menguntitnya terus. Iapun keluar bersamanya, setiap kali orang itu berhenti ia ikut berhenti, dan jika dia cepat iapun cepat. Ia berkisah: Lalu orang itu terluka dengan luka yang parah, maka ia ingin segera mati sehingga ia letakkan (gagang) pedangnya di bumi dan ujungnya di antara dua dadanya kemudian dia mengayunkan dirinya di atas pedangnya, sehingga iapun membunuh dirinya. Lalu orang yang menguntitnya itu datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya mengatakan: “Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah”. Beliau mengatakan: “Kenapa ?”, Ia menjawab: “Orang yang engkau sebutkan tadi bahwa dia termasuk penghuni Neraka.” Lalu orang-orang tercengang dengan hal itu. Maka aku katakan: “Aku (akan membuktikan) untuk kalian tentangnya. Maka aku keluar menguntitnya sampai ia terluka dengan luka yang parah maka ia ingin cepat mati, akhirnya ia letakkan gagang pedangnya di bumi dan ujungnya di antara dua dadanya, lalu ia ayunkan dirinya di atas pedangnya sehingga iapun membunuh dirinya.“ Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya seseorang benar-benar beramal dengan amalan penghuni Al-Jannah -yang nampak bagi manusia- sementara dia termasuk penghuni Neraka. Dan sungguh seseorang beramal dengan amalan penghuni Neraka -yang nampak bagi manusia- sementara dia termasuk penghuni Al-Jannah.” [Shahih, HR Al-Bukhari dan Muslim]

Sungguh benar-benar mencengangkan, penjuangan yang begitu gigih dalam jihad di jalan Allah, dan membuat kocar-kacir musuh, ternyata perjuangannya menjadi tidak begitu berarti manakala ia melanggar agama, bunuh diri. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencegah persaksian mereka, hal itu karena kita sebagai manusia, banyak hal yang terluputkan dari kita, kita tidak mengetahui hal yang tersembunyi, hanyalah Allah yang tahu akhir dari nasib seseorang.

Kiranya kejadian-kejadian di atas menjadi pelajaran penting bagi kita semuanya, para sahabat Nabi yang mulia dengan keilmuan dan keimanan mereka bersaksi atas para sahabat yang lain yang memenuhi hari-hari mereka dengan perjuangan dan pengorbanan, namun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mencegah mereka dari persaksian-persaksian tersebut, kenapa? Sekali lagi ini urusan ghaib yang hanya diketahui oleh Dzat Yang Maha Tahu urusan itu, Allah ‘Azza wa Jalla.

Atas dasar itu, maka menjadi keyakinan Ahlussunnah Wal Jama’ah yang mereka saling-mewarisi dan mewariskan dari sejak zaman Nabi hingga kini, bahwa kita tidak bisa memastikan seorangpun secara tertentu dari muslimin bahwa dia akan masuk Surga karena sebuah amalan tertentu. Tentu saja, kepastian atas mereka yang kita peroleh informasinya dari wahyu ilahi, semacam Al-‘Asyroh Al-Mubasyraruna bil Jannah ‘, sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira masuk surga’, diantaranya khalifah yang empat, atau yang semacam mereka.

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah yang digelari Imam Ahlussunnah, karena kegigihannya dalam memperjuangkan Aqidah, mengatakan:

“Dan kami tidak bersaksi atas ahlul qiblah (yakni muslimin) karena sebuah amalan yang dia amalkan bahwa ia pasti masuk surga atau neraka, kami berharap baik bagi seorang yang shaleh tapi kami tetap khawatir padanya, dan kami khawatir terhadap mereka yang berbuat jelek, tapi kami tetap mengharap rahmat Allah padanya.” [Ushulus Sunnah]

Imam Ahmad yang merasakan pahit getirnya kejahatan penguasa saat itu, penyiksaan, penjara, intimidasi dalam waktu kurang lebih 3 masa khalifah yaitu Al-Makmun, Al-Mu’tashim dan Al-Watsiq, itu semua karena memperjuangkan aqidah, hampir-hampir nyawa melayang karenanya.

Bahkan sudah melayang nyawa sekian ulama yang mendahului beliau saat itu, namun itu tidak membuat beliau larut dalam perasaan yang membawa kepada persaksian yang tidak benar, walaupun kesedihan terasa begitu mendalam dalam sanubari.

Tidak ketinggalan, Al Imam Al-Bukhari dalam kitabnya Shahih Al-Bukhari, yang sebagian ulama menyebutnya sebagai kitab yang paling Shahih setelah Kitabullah, oleh karenanya umat Islam menyambutnya dengan lapang dada, beliau meletakkan sebuah bab berjudul:

“TIDAK BOLEH SESEORANG MENGATAKAN FULAN SYAHID”

Lalu beliau menyebutkan riwayat :

Abu Hurairah berkata dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam: ”Allah lebih tahu siapakah yang (benar-benar) berjihad di jalan-Nya, Allah lebih tahu siapakah yang terluka di jalan-Nya. ”
Ibnu Hajar menerangkan: [Tidak boleh Mengatakan Fulan Syahid] yakni dengan memastikan hal itu kecuali dengan (berita) dari wahyu, seolah-olah beliau (Al-Bukhari) mengisyaratkan kepada hadits Umar bahwa beliau berkhutbah lalu mengatakan: “Kalian katakan dalam peperangan-peperangan kalian ‘fulan syahid’ dan ‘fulan mati syahid’, barangkali dia telah memberatkan kendaraannya, ketahuilah janganlah kalian mengatakan semacam itu akan tetapi katakanlah seperti yang dikatakan Rasulullah: “Barangsiapa yang meninggal atau terbunuh di jalan Allah maka dia syahid”. “ Dan itu hadits hasan Riwayat Ahmad dan Said bin Manshur dan selain keduanya.

Aqidah inipun ditegaskan oleh Ath-Thohawi dalam buku aqidahnya:

“Kami berharap untuk orang-orang yang berbuat baik dari mukminin untuk Allah ampuni mereka dan memasukkan mereka ke dalam Al-Jannah dengan rahmat-Nya dan kami tidak merasa aman atas mereka serta tidak bersaksi bahwa mereka pasti dapat surga. Kami juga memintakan ampun untuk orang-orang yang berbuat jelek dan kami khawatir atas mereka tapi kami tidak putus asa pada mereka.”

Dan begitulah sifat seorang mukmin, ia tidak merasa aman tentram dengan amalnya, karena yakin pasti diterima, bahkan ia selalu merasa khawatir, jangan-jangan amalnya tidak diterima, Aisyah bertanya kepada Rasulullah, wahai Rasulullah ayat :

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan (yakni dari shodaqoh atau yang mereka amalkan dari amal shalih), dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka”. [Al-Mukminun:60]
“Apakah maksudnya adalah seorang yang berzina dan meminum khamr serta mencuri?“ Rasulullah menjawab: “Tidak wahai putri Ash-Shiddiq, akan tetapi itu adalah seseorang yang berpuasa shalat, bersedekah dan khawatir amalannya tidak diterima.” [HR Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah]

Al-Hasan Al-Bashri mengatakan: “Demi Allah mereka mengamalkan ketaatan serta bersungguh-sungguh padanya tapi mereka juga takut kalau amalnya ditolak, sesungguhnya seorang mukmin menyertakan antara perbuatan baik dan rasa khawatir, sementara seorang munafiq menggabung antara perbuatan jelek dan perasaan tenang.” [Lihat Syarh At-Thahawiyah]

Para pembaca yang saya hormati, jujur saja, apakah yang dilakukan Imam Samudra cs suatu amal kebaikan? Seandainyapun itu suatu amal kebaikan, maka itupun tetap tidak membolehkan kita untuk memastikan bahwa itu diterima, bahkan hanya bisa mengharap, lebih-lebih memastikan syahid dan dapat surga serta bidadarinya. Hal itu sebagaimana penjelasan Allah, Rasul dan para ulama, inilah hukum Islam, jika kita mau menegakkan hukum Islam. Tapi kalau ternyata apa yang dilakukannya adalah suatu amal kejelekan, maka ini dari jenis yang kita khawatirkan, bahkan kekhawatiran besar.

Apa sebenarnya yang mereka lakukan?

Mari kita melihat sejenak, mereka telah menyebabkan lenyapnya nyawa seorang muslim, mereka telah membunuh dan melukai ratusan orang kafir para wisatawan asing, mereka telah menghancurkan gedung, mereka telah mengangkat senjata, muslimin kerepotan menerima tuduhan serupa, dan menimbulkan rasa takut di masyarakat, dan beberapa hal lain dengan alasan jihad.

Saya tidak ingin membahas semuanya, namun saya hanya akan menyoroti beberapa hal, itupun dengan singkat, agar tidak keluar dari maksud tulisan ini.

Pertama, menyebabkan lenyapnya nyawa seorang muslim, nyawa muslim walaupun hanya satu orang, maka itu sangat berharga di sisi Allah Ta’ala. Maka tidak boleh melakukan tindak kejahatan terhadap jiwa muslim dan membunuhnya tanpa alasan/cara yang benar. Barangsiapa yang melakukan hal itu berarti telah melakukan salah satu dosa besar dari dosa-dosa besar, Allah berfirman:

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya”. [An-Nisa:93] dan berfirman:

“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi”.[Al-Maidah:32]

Al-Imam Mujahid (seorang Tabi’in, Ahli Tafsir) mengatakan: (seperti membunuh semua manusia seluruhnya) “dalam hal dosanya”. Ini menunjukkan besarnya masalah membunuh jiwa tanpa cara/alasan yang benar, dan Nabi bersabda:
“Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tiada ilah yang benar selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah, kecuali dengan salah satu dari 3 perkara: pezina yang telah menikah, jiwa dengan jiwa, orang yang keluar dari agama meninggalkan jama’ah” [Muttafaqun ‘alaih dari Ibnu Mas’ud].

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
”Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka bersaksi bahwa tiada ilah yang benar melainkan Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, bila mereka melakukan hal itu, mereka telah melindungi darah dan hartanya dariku kecuali dengan hak Islam dan perhitungannya nanti diserahkan kepada Allah”. [Muttafaqun’alaih dari hadits ibnu Umar]

Dan dalam sunan Nasa’i dari hadits Abdullah bin ‘Amr dari Nabi shallallahu`alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda:
”Sungguh lenyapnya dunia bagi Allah lebih ringan dari terbunuhnya seorang muslim”. [Shahih, HR At-Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu majah dan yang lain Shohih At-Targhib:2439]

Dan Abdullah Ibnu Umar suatu hari memandang ke Ka’bah seraya mengatakan:
”Betapa agungnya engkau dan betapa agungnya kehormatan engkau, tetapi seorang mukmin lebih besar kehormatannya disisi Allah dari pada engkau” [Shahih lighoirihi, HR At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban, Shohih At-Targhib:2441]

Kedua, membunuh jiwa mu’ahad (orang-orang kafir yang memiliki perjanjian damai atau keamanan), diantara mereka adalah para wisatawan asing tersebut

Dari Abdullah bin ‘Amr bn Al-Ash dari Nabi shallallahu`alaihi wa sallam ia bersabda:
”Barangsiapa yang membunuh Mu’ahad maka ia tidak mendapatkan bau surga padahal baunya dapat dicium dari jarak perjalanan 40 tahun” [HR Al-Bukhori dan Ibnu Majah]

Dan siapa saja yang dimasukkan oleh penguasa muslim dengan perjanjian aman maka jiwa dan hartanya juga terlindungi, tidak boleh menyentuhnya dan barangsiapa yang membunuhnya maka maka dia seperti yang disabdakan Nabi shallallahu`alaihi wa sallam…”tidak akan mendapat bau surga”, dan ini adalah ancaman yang keras bagi orang yang mencoba membunuh orang yang berada dalam perjanjian aman.
Maksudnya siapa saja yang masuk dengan perjanjian aman dari penguasa untuk kepentingan suatu maslahat yang dia pandang, maka tidak boleh mengganggunya atau bertindak jahat terhadapnya, apakah kepada jiwanya atau hartanya.

Ketiga, melakukan kerusakan di muka bumi, dengan menimbulkan ketakutan melalui aksi terornya, Allah berfirman

“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar”. [Al-Maidah:33]

Ibnu Katsir mengatakan: kata Muharobah (memerangi) artinya melawan dan menyelisihi dan kata ini tepat diberikan kepada kekafiran atau qoth’u toriiq (penyamun jalanan) serta yang menakut-nakuti manusia dengan kejahatnnya di jalanan, demikian pula kata ‘merusak di bumi’ di berikan kepada berbagai macam kejahatan dan kejelekan. [Tafsir Al-Quran Al-Adhim:2/50]

Demikian pula kesimpulan Asy-Syaukani tentang makna ‘kerusakan di muka bumi’: Dan telah diperselisihkan tentang makna kerusakan di muka bumi dalam ayat ini, apakah itu? maka dikatakan dalam sebuah pendapat bahwa itu ‘syirik’. Dikatakan dalam pendapat lain bahwa itu ‘merampok atau mengganggu dengan kejahatan di jalan’, dan yang tampak dari susunan kalimat Al-Quran bahwa kata itu tepat untuk semua yang dapat disebut sebagai kerusakan di bumi, sehingga syirik adalah kerusakan di bumi, melakukan kejahatan di jalan juga kerusakan di bumi, menumpahkan darah dan merenggut kehormatan dan merampok harta juga kerusakan di muka bumi. Serta berbuat jahat terhadap hamba Allah tanpa alasan yang benar juga kerusakan di bumi, menghancurkan bangunan menebang pepohonan dan juga mengeringkan sungai juga kerusakan di bumi, dengan ini engkau tahu dengan tepat untuk menyebut ini semua sebagai kerusakan di bumi…[Tafsir Fathul Qadir]

Maka dari itu, siapapun yang melakukan kejahatan sebagaimana kriteria dia atas maka ia berhak mendapatkan hukuman yang Allah sebutkan dalam ayat yaitu, dibunuh, atau disalib, atau dipotong tangan dan kakinya secara menyilang atau diasingkan. Hal itu disesuaikan dengan besar kecilnya kejahatan yang dia lakukan setelah dipelajari dan terbukti kejahatannya, hukuman tersebut ditetapkan karena besarnya kejahatan yang dilakukan sehingga Allah menyebutnya sebagai peperangan terhadap Allah dan Rasul terutama bila diantara korbannya adalah muslimin.

Dilihat dari tiga masalah ini saja, maka tampak bahwa apa yang mereka (trio bomber dkk, red) lakukan bukanlah masalah sepele, bahkan merupakan ‘kejahatan kriminal yang amat besar’. Maka hukuman Hirobah-lah yang pantas bagi mereka menurut hukum Islam, seperti yang tersebut dalam surat Al-Maidah di atas, bila mereka konsekuen dengan tuntutan syari’at Islam, maka inilah syariat Islam bagi para pelaku kejahatan semacam ini.

Dari pemaparan secara singkat di atas, maka sangat keliru, bahkan salah besar, ketika seseorang berani memvonis surga atau syahid untuk mereka dengan amalan tersebut. Dan kesalahan vonis ini bukan hanya untuk mereka, bahkan untuk siapapun, kecuali bila ada wahyu ilahi yang menerangkan kepada kita bahwa seseorang syahid atau pasti masuk surga.

Maka berhati-hatilah, wahai kaum muslimin, untuk bicara tanpa ilmu !

Wallahu Ta’ala A’lam

Posted by: abuusamah88 | October 31, 2008

Seorang Pembohong Lebih Jahat Daripada Seorang Pengikut Bid’ah

Seorang Pembohong Lebih Jahat Daripada Seorang Pengikut Bid’ah

Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali

Dinukil dari jawaban Syaikh atas sebuah pertanyaan yang diajukan dalam Dauroh Imam ‘Abdul ‘Aziz Ibn Baaz di Masjid Malik Fahd di Thaif pada 22 Jumadits Tsani 1426 H.

Berbohong lebih buruk dari bid’ah wahai saudaraku, dan seorang pembohong menurut Ahlus Sunnah adalah lebih jahat dibandingkan dengan seorang mubtadi’ (Seorang yang melakukan bid’ah)

Seseorang meriwayatkan dari mubtadi’, mereka (Ahlus Sunnah) meriwayatkan dari Qadiriyyah, mereka meriwayatkan dari murji’ah dan mereka meriwayatkan dari yang selain mereka dari kalangan ahlul bid’ah selama bid’ah mereka tidak menjatuhkan mereka kepada kekufuran dan selama dia mereka bukan pembohong. Tapi jika seseorang merupakan Ahlus Sunnah dan dia adalah seorang pembohong maka dia lebih buruk daripada ahlul bid’ah.

Dan karena alasan ini Ibn Adi menulis dalam bukunya Al Kamiil (yang merupakan sebuah buku tentang perawi-perawi yang lemah) 29 bab tentang pembohong dan 1 bab tentang pengikut bid’ah. Dan Ahlus Sunnah menerima riwayat dari pengikut bid’ah yang jujur dan yang tidak mendakwahkan kebid’ahan mereka.

(Dinukil dari situs www.madeenah.com/article.cfm?id=1263 )

Posted by: abuusamah88 | October 30, 2008

Salafiyyah dan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

SALAFIYYAH DAN AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH

Diantara para da’I, ada yang selalu mengelak untuk memakai istilah salafiyyah dan mereka hanya terfokus dengan istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, padahal mereka mengaku beraqidah salaf.

Mereka hanya memperkenalkan sifat dakwahnya dengan sebutan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Mereka menyatakannya berkali-kali dalam muhadharah-muhadharah (ceramah-ceramah) dan majelis ilmu mereka.

Demikianlah, tatkala mereka tidak mau memakai istilah Salafiyyah, maka ini termasuk dari keagungan dan kemuliaan Allah ‘Azza Wa Jalla , agar dakwah yang haq (benar) berbeda dengan segala yang mengotorinya dan agar tersaring dari segala kerancuan dan noda-noda.

Adapun penjelasannya mengapa istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah mulai berkembang (dan muncul) adalah ketika fitnah-fitnah pada saat itu mulai berbenih bid’ah-bid’ah. Untuk itu jama’ah kaum Muslimin yang berpegang dengan sunnah terbedakan dengan yang lainnya.

Sehingga mereka dikatakan Ahlus Sunnah, sedangkan lawannya disebut Ahlul Bid’ah. Yang berpegang dengan sunnah disebut juga dengan Al Jama’ah. Istilah ini merupakan asal nama mereka, yang terpisah dari hawa nafsu dan kebid’ahan

Adapun pada masa kini, setiap kelompok dan aliran yang berbeda-beda memakai istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Anda menyaksikan banyak kelompok yang menamakan diri –meski aturan-aturan yang mereka pakai berasal dari mereka sendiri- dengan istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah

Sampai-sampai sejumlah tarekat sufi memakai istilah ini, begitu juga Asy’ariyyah, Maturidiyyah, Barlawiyyah dan yang semisalnya mengaku (dan mengatakan) : “Kamu adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah”

Bersamaan dengan itu mereka takut kalau memakai dan mensifati dakwah mereka dengan istilah salafiyyah. Mereka berusaha menjauh dari manhaj salaf, sekalipun hanya sebatas nisbah (menyandarkan) apalagi mewujudkan manhaj salaf (dalam amal perbuatan)

Oleh karena itu syi’ar Ahlus Sunnah adalah mengikuti salafush shalih dan meninggalkan segala macam kebid’ahan dan perkara-perkara yang baru (dalam agama).[1]

Barangsiapa yang mengingkari, bahkan melecehkan salaf dan tidak mau mengikutinya, maka harus dibantah dan diluruskan ucapannya

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : “Tidak ada kehinaan bagi siapa saja yang memperjuangkan mahzab salaf, menisbatkan diri kepadanya, bahkan wajib menerima yang demikian itu berdasarkan kesepakatan (para Ulama), karena sesungguhnya mahzab salaf adalah pasti benar”[2]

Saya bertanya-tanya, mengapa sebagian saudara kita terus memakai istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan mereka enggan untuk memakai istilah Salafiyyah

Kita yakin bahwa mereka berada di atas aqidah salaf. Mereka menimba kebersihan aqidah tersebut, bahkan mereka tumbuh dan berkembang di tengah-tengah keluarga dan berbagai tingkat pendidikan tersebut.

Saya katakana, mengapa mereka tidak mencukupkan saja dengan memakai kata muslimin, kalau seandainya mereka takut atau khawatir akan mengantarkan kepada perpecahan, menurut pendapat mereka?!

Apabila mereka membolehkan menisbatkan diri dengan nama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, maka tidak ada larangan jika memakai nama salafiyyah sebagai nisbat kepada salafush shalih, tabi’in dan prang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Akan tetapi saya akan katakan: “Tidak tersembunyi lagi, mengapa mereka terus menggunakan istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, karena mereka ingin menampakkan toleransi dan kelemahlembutannya kepada para penyelisih manhaj salaf serta jalannya

Hal ini bertujuan agar luas ruang lingkupnya, bersemangat untuk mewujudkan kuantitas bukan kualitas, dan mengikuti jama’ah sebelumnya hanya sebatas uji coba”

Saya telah mendengar sebagian orang yang menisbatkan dirinya kepada dakwah dan kebaikan, bahwa mereka ingin menghilangkan lambang-lambang dan penamaan-penamaan ini secara menyeluruh. Dan mereka memasukkan juga di dalamnya nama Salafiyyah dengan dalil bahwa semua nama-nama dan lambang-lambang ini akan menjurus kepada perpecahan dan kelompok-kelompok.

Keinginan dan tujuan ini di dalamnya mengandung sisi kebenaran dan kebatilan. Kita sepakat atas penghapusan setiap syiar-syiar yang diada-adakan dan mengandung kebid’ahan. Bahkan kebanyakan syiar-syiar tersebut tidak diketahui kecuali baru-baru saja, sekitar lima puluh tahunan belakangan ini dan sebagiannya bahkan tidak sampai umurnya tercatat oleh zaman (karena setelah itu hilang)

Akan tetapi syiar Salafiyyah dan Ahlus Sunnah bukan kelompok hizbiyyah (kelompok-kelompok yang menyelisihi Sunnah) dan tidak pula bergabung dengan kelompok apapun. Salafiyyah atau Ahlus Sunnah merupakan warisan pendahulu generasi pertama agama Islam ini.

Syiar Salafiyyah merupakan jalan yang paling dasar untuk memahami Islam. Tidak boleh disamakan dengan syiar-syiar yang muncul di zaman belakangan ini.

Mayoritas Ulama yang menulis dalam masalah aqidah menetapkan nama ini, diantaranya :

1. Al Hafidz Ismail At Taimi Al Asbahani, beliau adalah ulama abad kelima. Beliau mengulang-ulang penyebutan mazhab Salaf (dalam kitabnya) sampai tidak terhitung

2. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Ketika beliau melihat sebagian orang yang menyelisihi aqidah yang lurus, seperti Asy’ariyah yang menamakan diri dengan nama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, maka beliau mempergunakan nama As-Salaf untuk membedakan dengan kelompok bid’ah tersebut. Sebab, bagaimanapun juga kelompok Ahlul Bid’ah tidak mau menamakan diri dengan nama Salafiyyah

Saya telah menelaah kitab Al-Fataawa Al-Hamawiyyah dan saya telah menemukan pengulangan kata As-Salaf lebih dari tiga puluh kali. Apakah (dengan itu) Syaikhul Islam (dianggap) sebagai pemecah belah umat ataukah orang yang pendek akalnya?

Lebih aneh lagi, sebagian penuntut ilmu yang juga memuliakan Syaikhul Islam dan manhajnya, bahkan mereka banyak bersandar dengan kitab-kitab beliau, lebih mengutamakan maslahah dengan cara meninggalkan penamaan Salafiyyah dan mencukupkan diri dengan istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Karena hal ini termasuk syiar yang luas cakupannya dan ini tidak diingkari oleh seorang pun dikalangan kaum Muslimin pada saat sekarang.

Manhaj Salaf bukanlah hasil karya orang-orang zaman sekarang, akan tetapi manhaj Salaf, Ahlus Sunnah, Ahlul Hadits atau Ahlul Atsar terdapat di dalam wahyu yang diturunkan (Al Qur’an dan As Sunnah) dengan penafsiran dan pengamalan generasi yang pertama lagi utama, yaitu generasi sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in.

Termasuk salah satu perbuatan yang menyimpang dan salah satu bentuk kedzaliman adalah menyamakan manhaj Salafi dengan syiar-syiar baru dan bid’ah.

Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman :

وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ ﴿٧﴾ أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ ﴿٨﴾ وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ ﴿٩﴾

“Dan Allah telah meninggikan langit-langit dan meletakkan neraca (keadilan) supaya kalian jangan melampaui batas tentang neraca tersebut. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan (penuh) keadilan dan janganlah kalian mengurangi neraca tersebut” (QS Ar Rahmaan : 7-9)

Termasuk kekeliruan yang fatal dan pendeknya akan (seseorang), apabila manhaj Salaf dimasukkan dalam ruang lingkup syiar hizbiyyun dan kebid’ahan. Siapa saja yang mengucapkan ucapan ini, hendaklah dia bertakwa kepada Allah ‘Azza Wa Jalla, menginstropeksi diri, dan membersihnya dirinya dari hawa nafsu.

Cukuplah untuk membantah ucapan tersebut kita lontarkan kepadanya pertanyaan berikut ini:

1. Beritahukanlah kepada kami, siapakah yang mendirikan manhaj Salaf ini?

2. Kapan manhaj Salaf didirikan?

3. Apakah anda berani mengatakan bahwa manhaj Salaf adalah sebuah manhaj yang mengandung di dalamnya kesalahan-kesalahan, sebagaimana keadaannya manhaj bid’ah?

Bertakwalah wahai Muslim;

Janganlah engkau terpengaruh untuk menentang dan sombong dihadapan al-haq (kebenaran) serta menolaknya dan engkau memalsukan hakikat-hakikat yang kokoh. Ketahuilah bahwa manhaj Salaf tidak didirikan oleh si fulan sepanjang zaman. Akan tetapi, manhaj Salaf adalah aqidah yang murni, syari’at yang kokoh, pengajaran-pengajaran Ilahiyyah yang telah diwahyukan oleh Allah ‘Azza Wa Jalla kepada Rasul-Nya Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salam.

Manhaj ini telah diperaktekkan oleh beliau bersama para sahabat beliau dan diikuti oleh orang-orang yang mengikutinya dalam kebaikan sehingga menjadi hujjah yang terang dan jalan yang jelas, yang malamnya seperti siangnya.

Tidak ada seorang pun yang menyeleweng darinya kecuali binasa. Tidak ada seorang pun yang membencinya kecuali akan menjadi hina, sehingga sebagaimana yang telah diancamkan oleh Allah di dalam Al Qur’an dengan firman-Nya:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا ﴿١١٥﴾

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas baginya kebenaran dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali” (QS An Nisa’ : 115)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

“Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat sekalipun (yang memimpin kalian) adalah seorang budak Habasyi. Maka barangsiapa yang hidup dari kalian (di masa) itu dia akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Maka hendaklah kalian berpegang dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafa’ Ar-Rasyidin yang telah mendapat petunjuk setelahku. Barpegang teguhlah dengannya dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara yang baru (dalam masalah agama), karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat.” Dalam riwayat lain ada tambahan: “Dan setiap kesesatan tempatnya dalam neraka”[3]

Syaikh Al-Allamah Bakr Abu Zaid berkata di dalam kitab beliau: Hukmul Intima’ hal. 30 dan halaman berikutnya:

“Kaum Muslimin dari kalangan para sahabat sebelum munculnya benih-benih perselisihan dan perpecahan tidak memiliki nama untuk membedakan mereka. Kemudia setelah itu muncul kelompok-kelompok sesat yang dihumpun dalam lafadz ahlul ahwa-Dinamakan demikian karena mereka dikuasai hawa nafsu- dan dihimpun dalam lafadz ahlul bida’-hal ini dikarenakan mereka mengikuti apa yang bukan dari agama- serta tercakup dalam lafadz ahlu syubhat-karena mereka menyamarkan perkara kebenaran dengan kebatilan-

Ketika muncul kelompok-kelompok tersebut, yang menisbatkan dirinya kepada Islam tetapi sebenarnya terpisah dari tulang punggung kaum Muslimin, maka muncullah penamaan untuk merekaa (para shahabat dan para pengikutnya) yang syar’I dengan nama Ahlus Sunnah wal Jama’ah

Hal ini dalam rangka untuk membedakan mereka sebagai jama’ah kaum Muslimin (yang konsisten dengan As Sunnah) yang bertujuan untuk menghancurkan kelompok-kelompok sesat dan pengekor-pengekor hawa nafsu tersebut.

Penamaan ini berasal dari syari’at (Allah ‘Azza Wa Jalla) begitu pula dengan nama Al-Jama’ah, Jama’atul Muslimin, Al-Firqatun Najiyyah (kelompok yang selamat), dan Ath-Thaifah Al-Manshurah (golongan yang ditolong).

Dinamakan seperti ini, dikarenakan mereka konsisten berpegang dengan sunnah dihadapan ahlul bid’ah. Oleh sebab itulah maka terjadi ikatan dengan generasi pertama umat ini sehingga mereka disebut juga: As-Salaf, Ahlul Hadits, Ahlul Atsar (Kelompok yang mengikuti atsar) dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah

Nama-nama yang mulia ini telah menyelisihi (dan membedakan diri) dengan nama kelompok-kelompok sempalan apapun juga. Ini dapat dilihat dari beberapa sisi:

Pertama:

Penyandaran ini tidak terpisah sesaat pun dari umat Islam, dikarenakan pembentukkannya di atas manhaj Nabawi. Nama ini mencakup seluruh kaum Muslimin yang berada di atas jalan generasi yang pertama dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam pengambilan ilmu, memahaminya, dan berdakwah kepadanya.

Tidak terbatas dengan peredaran sejarah tertentu, akan tetapi wajib dipahami bahwa perjalanannya terus berlangsung sepanjang kehidupan dan selama Firqatun Najiyyah yang berada dalam barisan Ahlul Hadits dan Sunnah. Merekalah pemilik manhaj ini, dan terus ada sampai datangnya hari kiamat. Sebagaimana hal ini terdapat di dalam sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam:

‘Terus-menerus (akan ada) sekelompok dari umatku tertolong di atas kebenaran, tidak akan memudharatkannya siapa saja yang menyelisihi dan merendahkan mereka’[4]

Kedua:

Semua nama-nama ini mencakup Islam seluruhnya, karena Islam adalah Al Qur’an dan As Sunnah. Mereka tidak memakai nama khusus yang menyelisihi, menambahi atau mengurangi dari apa yang ada di dalam Al Qur’an dan As Sunnah.

Ketiga:

Semua nama-nama ini diantaranya ada yang terambil dari sunnah yang shahih dan diantaranya tidak dipakai kecuali dalam rangka menghadapi manhaj-manhaj ahli hawa nafsu dan kelompok-kelompok sesat. Hal ini dalam rangka untuk membantah mereka, membedakan diri dengan mereka, menjauhkan diri dari bergaul bersama mereka dan bersikap keras terhadap mereka.

Ini disebabkan munculnya bid’ah mereka yang berbeda dengan istilah As Sunnah. Diantaranya ketika mereka menjadikan hasil pemikirannya sebagai hakim, ketika mereka berbeda dengan istilah Al-Hadits serta Al-Atsar dan ketika bertebaran kebid’ahan-kebid’ahan serta hawa nafsu-hawa nafsu mereka telah berbeda dengan istilah Salaf.

Keempat:

Meletakkan Al-Wala’ (loyalitas), Al-Bara’ (berlepas diri), Al-Mu’awanat (Pembelaan), dan Al-Mua’adat (Permusuhan) di atas Islam bukan selainnya, tidak di atas satu lambang tertentu atau lambang yang telah ada, akan tetapi di atas Al Qur’an dan As Sunnah semata.

Kelima:

Nama-nama ini tidak menggiring mereka ke dalam lingkaran fanatisme kepada individu tertentu, kecuali hanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam. Para pengikut kebenenaran dan As Sunnah tidak memiliki contoh kecuali (hanya mencontoh) Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam yang ucapannya bukan berasal dari hawa nafsunya, akan tetapi dengan wahyu yang telah diturunkan kepadanya. Beliaulah yang wajib kita benarkan terhadap segala apa yang diberitakannya dan mentaati apa saja yang diperintahkannya.

Hal ini tidak dimiliki oleh selain beliau, bahkan setiap orang bisa saja diambil dan ditinggalkan ucapannya kecuali Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam. Maka jelaslah semuanya, bahwa orang yang pantas menjadi Al-Firqatun Najiyyah (Kelompok yang selamat) adalah Ahlul Hadits dan Ahlus Sunnah. Mereka tidak memeiliki ikutan yang mereka fanatik kepadanya, kecuali hanya fanatik kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam”[5]

Memang benar, bahwa Ulama Salafiyyin dulu maupun sekarang, mereka sangat jauh dari fanatisme terhadap para Imam dan masyayikh (para Syaikh). Merekalah yang paling tunduk dalam mengikuti dalil dan Burhan (petunjuk), dan lebih bersemangan (untuk mencari ilmu, mengamalkan dan mendakwahkan) Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam yang shahih.

Berbeda dengan para pengikut kelompok-kelompok yang mendasari pemikiran-pemikiran mereka di atas ketaatan mutlak (kepada pemimpinnya), yang apabila dilihat dengan kacamata Islami, maka dia (pemimpinnya) tidak berhak untuk dijadikan sebagai tempat bertanya, memberi hujjah atau dimintai dalil dan keterangan.

Adapun apa yang telah terjadi dari perilaku sebagian orang yang demikian itu jika mereka menisbatkan dirinya kepada dakwah Salafiyyah, Alhamdulillah ini jarang terjadi serta sedikit jumlahnya. Maka jika yang ditanya itu adalah orang yang jahil (bodoh) tentang hakikat jalannya Salaf, tentunya cercaan itu akan kembali kepada si jahil tersebut.

Bagaimana pendapat kalian jika kalian melihat perilaku umat Islam yang telah dikritik oleh orang-orang nasrani bahwa sebagian mereka terjatuh dalam perbuatan dzalim, keji, intimidasi, melampaui batas dan jelek, apakah setelah itu cercaan yang seperti ini akan mengenai Islam? Naudzubillah

Demikianlah pula dengan ucapan yang berasal dari para penganut akal dengan mengatakan: “Setiap jama’ah memiliki kesalahan tanpa terkecuali manhaj Salaf.” Sungguh dia telah mencampur adukkan antara yang haq dan bathil. Dan hal ini tidak muncul dari mereka kecuali dari kebodohan yang nyata.

Dan masih ada kebodohan dalam bentuk lain, yaitu “berdalil dengan kuantitas”, artinya bahwa jalan fulan ini banyak yang mengikutinya (tanpa melihat) apakah jalan itu benar atau tidak. Mereka mencerca Salafiyyin karena sedikit pengikutnya dan mereka (penganut akal) berbangga karena pemikiran-pemikiran dan buku-buku mereka laku di pasaran.

Banyaknya pengikut tidak bisa dijadikan sebagai dalil kebenaran. Begitu pula sedikitnya pengikut tidak bisa jadi bukti ketidakbenaran, karena hal ini tidak ada dasarnya, baik dari kacamata syari’at ataupu secara kenyataan.

Adapun dalil dari syari’at

Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman:

وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ ﴿١٠٣﴾

“Dan Sebagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya” (QS Yusuf : 103)

Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman:

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ

“Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya akan menyesatkanmu dari jalan Allah” (Al-An’am: 116)

Dan firman Allah’Azza Wa Jalla:

وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ

“Dan tidak beriman bersama Nuh itu kecuali sedikit” (QS Hud: 40)

Adapaun secara kenyataan

Bahwa orang-orang kafir berlipat-lipat jumlahnya dibanding dengan orang-orang Islam. Bahkan orang Nasrani lebih banyak dari kaum Muslim. Setengah juta orang-orang barat berkumpul untuk menyaksikan, mendengarkan seorang penyayi, berdansa dan berdrama.

Pada sebagian acara-acara TV aeperti drama dan nyanyi-nyanyian disaksikan pada waktu yang bersamaan oleh kurang lebih sepuluh juta orang. Sebagian buku-buku nujum (ilmu sihir) dibeli kurang lebih oleh sepuluh juta orang. Yang menghadiri acara kelahiran Al Badawi adalah masyarakat yang sangat banyak samapi mencapai dua juta orang. Apakah masuk akal, kalau kita beralasan karena banyaknya penggemar menunjukkan bahwa jalan mereka adalah benar dan mereka adalah orang-orang yang dicintai di sisi Allah. Inilah ukuran orang-orang jahil dan orang-orang yang tertipu.

Adapun para penganut Al-Haq mengetahui bahwa sedikit-banyak jumlah pengikut bukanlah sebaga ukuran. Bahkan, terkadang yang sedikit jumlahnya lebih dekat kepada kebenaran. Artinya bahwa pemegang Al-Haq itu sedikit, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

“Telah ditampilkan kepadaku umat-umat terdahulu, maka aku melihat seorang Nabi dengan pengikutnya (dengan jumlah) rahthun (di bawah sembilan di atas tiga) dan seorang Nabi bersama satu pengikut atau dua orang serta seorang Nabi tidak membawa penikut sama sekali”[6]

Apakah boleh seseorang menghakimi para Nabi, dengan mengatakan bahwa jalan mereka salah atau mereka gagal dalam berdakwah? Semoga Allah melindungi kita (dari ucapan jelek ini).

Termasuk perkara yang dimaklumi, seperti yang telah dijelaskan di dalam hadits-hadits yang shahih bahwa para pengikut Dajjal dari penduduk bumi ini banyak sekali. Hal ini dikarenakan kuat dan kerasnya kedustaan serta penyesatannya dan sangat sedikit yang kokoh di atas keimanan.

Para pengikut manhaj Salaf akan semakin bertambah kokoh dan kuat serta meyakini kebenaran manhaj Allah dan Rasul-Nya yang murni, ketika melihat manusia terpecah berkeping-keping dan melihat kepada pengikut manhaj-manhaj sesat yang banyak jumlahnya.

Mereka mengetahui, bahwa keadaan Islam sekarang dalam keadaan asing sebagaimanan asingnya ketika pertama kali datang. Mereka mengetahui bahwa orang yang berpegang dengan bimbingan agama di masa sekarang ini seperti orang yang memegang bara api, karena sedikitnya para pengikut Al-Haq dan banyaknya pengikut kebatilan dan juga karena kedzaliman ahli kebatilan terhadap pengikut Al-Haq yang sedikit jumlahnya.

Semuanya ini tidak membawa mereka kepada sikap putus asa serta lari dari rahmat Allah ‘Azza wa Jalla. Tidak pula menjadikan mereka meninggalkan kewajiban-kewajiban dalam menyampaikan (kebaikan), berdakwah dan amar ma’ruf nahi munkar.

Mereka bahkan terdorong untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan ini merupakan udzurnya (dihadapan Allah). Mereka selalu mengingat firman Allah ‘Azza wa Jalla:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَـٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ

“Seseungguhnya engkau tidak bisa memberikan petunjuk kepada siapa saja yang engkau cintai, dan akan tetapi Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya” (QS Al-Qashash: 56)

Dan juga firman Allah ‘Azza wa Jalla:

وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ﴿٣﴾

“Demi masa. Sesungguhnya semua manusia dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, orang yang saling berwasiat dalam kebaikan dan orang-orang yang saling berwasiat dalam kesabaran. ” (QS Al-Ashr: 1-3)

Di dalam ayat ini ada dalil yang menunjukkan terlalu banyak orang-orang yang merugi dan binasa serta sedikitnya orang-orang yang berhasil menang.

Kita meminta kepada Allah agar memberikan kita kekokohan (iman) dan terus menerus berada di atas Al-Haq (kebenaran).

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ ﴿٨﴾

“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; Karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (Karunia)” (QS Ali Imraan: 8)

(Dinukil dari Adwa’un ‘ala Kutubis Salafi terjemahan Indonesia Kajian Bagi Pemula Berkenaan dengan Salaf, Karya Asy Syaikh Muhammad bin Rabi’ bin Hadi Al Madkhali, diterbitkan oleh Pustaka Sumayyah)



[1] Lihat Kitab Al-Hujjah fi Bayan Al-Manhajjah (1/364), karya Al-Ashbahani

[2] Majmu’ Fatawa (4/149), karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan kitab Ru’yatun Waqi’iyah fil Manahij ad-Da’wiyyah (hal. 21-23), karya Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Abdul Hamid

[3] Sunan Abi Dawud (5/13), At-Tirmidzi dengan Syarah Tuhfatul Ahwadzi (7/438), Ibnu Majah (1/15) dalam Al-Muqaddimah, Ahmad (4/126-127), dan Al-Hakim dalam Kitabul ‘Ilmi (1/95-97). Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam kitab Silsilah Ash-Shahihah (2/647)

[4] Di dalam riwayat yang lain dengan lafadz:

“Terus-menerus ada sekelompok dari umatku yang senantiasa tampil di atas kebenaran. Tidak akan membahayakan mereka (atas perbuatan) orang-orang yang menghinakan mereka, sampai datang keputusan Allah dan mereka dalam keadaan seperti itu” (HR. Bukhari-Muslim, dan lafadz hadits ini adalah lafadz milik Imam Muslim dari sahabat Tsauban, hadits no. 1920 -ed)

[5] Sampai di sini ucapan Syaikh Bakr Abu Zaid, Semoga Allah memberi berkah dalam umur beliau dan memberikan manfaat pada ilmu beliau.

[6] Diriwayatkaan oleh Imam Muslim dalam Kitabul Iman hal 374 dari hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhuma yang panjang


Posted by: abuusamah88 | October 21, 2008

PERMULAAN MUNCULNYA ISTILAH SALAF

PERMULAAN MUNCULNYA ISTILAH SALAF

Syaikh kami Muhammad Amaan Al Jaami berkata bahwa sesungguhnya istilah [Salaf] ini telah muncul dan terkenal ketika terjadi perdebatan tentang permasalahan ushuluddin (pokok-pokok agama-ed) di kalangan kelompok-kelompok ahlul kalam. Masing-masing kelompok tersebut berusaha untuk menisbatkan diri mereka kepada Salaf dan mengklaim diri serta pemikiran mereka adalah sama dengan Salaf. Dalam keadaan seperti itu haruslah dimunculkan prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah yang jelas dan kokoh batasannya tentang apa itu manhaj Salaf. Sehingga menjadi jelas bagi orang yang ingin menisbatkan dirinya kepada Salaf dan berjalan di atas jalan mereka[1]

Syaikh Bakr Abu Zaid berkata bahwa sesungguhnya kaum muslimin pada generasi yang pertama sebelum terjadi perpecahan dan perselisihan tidak memiliki nama tersendiri. Karena mereka sebagaimana yang disebutkan adalah kaum yang mengamalkan Islam dengan sempurna. Akan tetapi setelah muncul kelompok-kelompok sesat yang semuanya tercakup pada istilah ahlul ahwa karena sangat kuat dalam mengikuti hawa nafsu; Dan juga (tercakup dalam) istilah ahlul bida’ karena mengikuti sesuatu yang berasal dari luar agama Islam; Mereka juga (tercakup dalam) istilah ahlusy syubuhat karena mencampur adukkan antara haq dengan batil sehingga mereka membuat rancu terhadap umat, karena mereka keluar dari sunnah yang diakibatkan oleh syubhat yang membinasakan; Dan pemimpin mereka yang pertama adalah musuh pertama, Iblis. Semoga Allah ‘Azza Wa Jalla malaknatinya. Dialah yang pertama kali menentang Allah ‘Azza Wa Jalla dengan kiasnya. Allah ’Azza Wa Jalla berfirman

قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

“Iblis berkata aku lebih baik daripadanya, Engkau menciptakanku dari api dan Engkau menciptakan Adam dari tanah” (QS Al A’raaf : 12)

Ketika muncul kelompok-kelompok sempalan yang menisbatkan diri mereka kepada Islam (namun) terpisah dari tiang inti kaum Muslimin, munculah nama-nama syar’I bagi jamaah kaum Muslimin (yang asli) yang dapat membedakan (dari kelompok-kelompok yang menyimpang itu), untuk meniadakan kelompok-kelompok dan hawa nafsu dari mereka. Sama saja apakah nama-nama tersebut berdasarkan ketetapan syariat seperti Al Jamaah-jamaatul muslimin-, Firqotun Najiyah, Aththoifah Almanshuroh, atau juga yang disandarkan kepada sikap mereka yang tegas dalam memegangi Sunnah di hadapan ahlul bid’ah. Dengan demikianlah munculah keterikatan antara mereka dengan generasi pertama, sehingga mereka disebut dengan Salaf, Ahlul Hadits, Ahlul Atsar, Ahlussunnah Wal Jamaah. Nama-nama yang sesuai dengan syariat ini, berbeda dengan nama-nama kelompok manapun[2]

(Dinukil dari Kitab Secercah Cahaya Hidayah, Terjemah dari Irsyadul Bariyyah ila Syari’atil Intisaab lis Salafiyyah, karya Asy Syaikh Abu ‘Abdissalam Hassan bin Qashim Al Husaini Ar Rimmy As Salafy)


[1] As Sifat Al Ilahiah, hlm 57-58

[2] Hukmu Al Intima, hlm 40-41

Posted by: abuusamah88 | September 21, 2008

MAKNA DARI KATA SALAF

MAKSUD DARI KATA SALAF

Secara Bahasa

Ibnu Mandzur Berkata bahwa As Salaf, As Salif, dan As Salafah adalah jama’ah yang terdahulu. [1]

Abu Sa’adat Ibnul Atsir berkata “Dikatakan الإنسان سلف orang yang telah mendahului dalam kematian dari kalangan nenek moyang atau kerabat. Oleh karena inilah generasi yang pertama dari kalangan pengingkut Rasul disebut dengan Salafush Shalih“[2]

‘Abdul Karim As Sam’any berkata bahwa as salafi dengan di fathah huruf sin dan lam diakhiri dengan huruf fa, ini adalah penisbatan kepada as salaf dalam mengikuti manhaj mereka.[3]

Abul Hasan Ibnul Atsir Al Jaziri berkata setelah membawakan perkataan As Sam’any di atas, “Dan dengannya siketahui bahwa mereka adalah al jamaah[4]

Secara Istilah

Al Imam As Safarini berkata bahwa yang dimaksud dengan manhaj salaf adalah segala sesuatu yang para sahabat ada di atasnya. Dan juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, kemudian pengikutnya lagi. Serta para tokoh agama yang terkenal dengan keimaman, kebesaran, dan kedudukan mereka dalam perkara agama, sehingga manusia mengambil ucapan-ucapan mereka dari generasi yang pertama kepada generasi yang berikutnya. Mereka bukanlah orang-orang yang tertuduh dengan bid’ah atau terkenal dengan julukan yang tidak diridhoi, seperti Khawarij, Qadariyyah, Murji’ah, Jabriyyah, Jahmiyyah, Mu’tazilah, Karamiyyah dan kelompok-kelompok yang semisal dengannya.[5]

Lajnah Da’imah ditanya tentang apa yang dimaksud dengan Salafiyyah dan apa pendapat mereka tentangnya. Mereka menjawab bahwa Salafiyyah adalah penisbatan kepada salaf. Sedangkan salaf adalah para sahabat Rasulullah, dan para Imam-imam yang membawa petunjuk dari tiga generasi yang pertama yang kebaikannya dipersaksikan oleh Rasulullah. Beliau bersabda

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَجِيءُ أَقْوَامٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ

Sebaik-baik kalian adalah generasiku (sahabat), kemudian yang sesudahnya dan yang sesudahnya. Kemudian datanglah suatu kaum yang persaksuan seseorang diantara mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya[6]

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya, Bukhari dan Muslim

Adapun kata Salafiyyun adalah bentuk jamak dari kata Salafi adalah penisbatan kepada salaf dan telah lewat (pembahasan) maknanya. Mereka adalah orang-orang yang berjalan di atas manhaj Salaf karena mengikuti Al Qur’an dan Sunnah, serta menyeru umat kepada keduanya dan untuk beramal dengan keduanya. Dengan demikian mereka disebut Ahlus Sunnah wal Jamaah[7]

Syaikh yang mulia ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz berkata, “Salaf adalah tiga generasi yang utama. Siapa saja yang menempuh jejak mereka serta beramal di atas manhaj mereka maka dia disebut dengan Salafi. Dan siapa saja yang menyelisihi mereka maka dia disebut dengan khalafi[8]

Syaikh kami Muhammad Amaan bin ‘Ali Al Jami’ berkata, “Ketika kita menyebut secara mutlak kata salaf, maka sesungguhnya yang kita maksudkan adalah (makna) secara istilah yaitu para sahabat Rasulullah, yang mereka itu hidup di zaman beliau, mengambil ilmu agama yang masih basah-segar secara langsung dari beliau. Sebagaimana masuk pula dalam istilah ini (para tabi’in) yang tak lama kemudian mengikuti mereka dengan baik serta mewarisi ilmu dari mereka. Kemudian juga orang-orang yang termasuk dalam persaksian dan pujian Rasulullah sebagai sebaik-baik manusia, ketika beliau bersabda,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi berikutnya dan berikutnya[9]

Hadits ini juga mencakup Tabi’ut Tabi’in (murid-murid Tabi’in)

Syaikh kami Shalih bin ‘Abdullah Al Abud berkata, “Sesungguhnya yang dimaksud dengan istilah Salafiyyah adalah mengikuti jalan pendahulu umat Islam yang shalih yang mereka itu adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Makna hal itu adalah ijma’ yang dipakai menjadi hujja, karena (ijma’) tersebut adalah ijma’ di dalam mengikuti Sunnah Rasulullah secara lahir batin, juga mengikuti jalan generasi yang pertama (yaitu) Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik”[10]

Syaikh Bakr bin ‘Abdullah Abu Zaid berkata, “Apabila dikatakan As Salafu atau As Salafiyyun atau As Salafiyyah maka itu adalah suatu penisbatan kepada Salafush Shalih (yaitu) para sahabat semuanya. Orang yang mengikuti mereka dengan baik, bukanlah orang yang (mengikuti) selain sahabat (yaitu) para pengekor hawa nafsu dari kalangan khalaf yang telah memisahkan diri dari jalan Salafush Shalih, dengan memakai nama atau atribut tertentu… Oleh karena itu kata Salaf sendiri bermakna Salafush Shalih. Dengan dalil kalau kata ini diucapkan secara mutlak, menunjukkan semua orang yang mencontoh para Sahabat, termasuk juga orang yang ada di zaman kita, demikian pula seterusnya. Begitulah perkataan ulama tentang Salaf. Bahwasanya Salafiyyah adalah penisbatan tanpa (memakai) penamaan dari luar Al Qur’an dan Sunnah. Penisbatan ini tidaklah terlepas sekejap pun dari generasi yang pertama. Bahkan penisbatan ini adalah mereka dan kembali kepada mereka. Adapun manusia yang menyimpang dari mereka dengan membuat penisbatan kepada nama-nama atau tanda-tanda baru, maka orang itu bukalah Salafi. Walaupun hidup di antara mereka atau sezaman dengan mereka. Oleh karena itu para sahabat berlepas diri dari kelompok Qadariyyah, Murji’ah dan lain-lain”[11]

Beliau juga berkata, “ Jadikanlah dirimu sebagai seorang Salafi yang benar-benar mengikuti jalan Salafush Shalih dari kalangan sahabat dan para ulama setelah mereka yang mengikuti jejak sahabat pada semua bagian agama, seperti tauhid, ibadah, dan yang lainnya”[12]

(Dinukil dari Kitab Secercah Cahaya Hidayah, Terjemah dari Irsyadul Bariyyah ila Syari’atil Intisaab lis Salafiyyah, karya Asy Syaikh Abu ‘Abdissalam Hassan bin Qashim Al Husaini Ar Rimmy As Salafy)


[1] Lisanul Arab 6/330

[2] An Nihayah fi Ghurobil Hadits 3/390

[3] Al Ansab 7/104

[4] Allubabu fi Tahdzibil Ansab

[5] Lawamiul Anwar 1/20

[6] Shahih Al Bukhari, Kitab : Asy-Syahadah (2457)

[7] Lajnah Daaimah Li Buhuts Al Ilmiyyah Nomor 1361/165, 166

[8] Syarah ‘Aqidah Hamuwiyyah oleh Syaikh Hamd bin ‘Abdul Muhsin At Tuwaijiri hal 203

[9] As Sifat Al Ilahiyyah fil Kitabi was Sunnah hal 57

[10] Aqidatu Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab As Salafiyyah hal 195

[11] Hukmul Intima ‘Alal Firoqi wal Ahzab wal Jama’at Islamiyyah hal 46-47

[12] Hilyah Thalibul ‘Ilmi hal 8

Posted by: abuusamah88 | September 18, 2008

Salaf dan Salafiyyah

SALAF DAN SALAFIYYAH

  1. MAKNA SALAF

Kata salaf sering diucapkan. Maksudnya adalah generasi pertama dari kalangan para sahabat dan tabi’in (murid-murid para sahabat) yang berada di atas fitrah (dien) yang selamat dan besih dengan wahyu Allah y

Mereka menyandarkan aqidah kepada Al Qur’an dan As Sunnah yang suci. Pemikiran mereka belum ternodai oleh pemahaman-pemahaman filsafat asing. Mereka telah berlalu sebelum pengaruh filsafat-filsafat asing tersebut merusak kaum Muslimin. Untuk mengetahui batasan (zaman) salaf, maka kita harus mengetahui batasan zaman dan manhaj mereka

  1. BATASAN ZAMAN

Adapun batasan zaman mereka adalah tiga generasi yang pertama (yaitu sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in) yang telah dipersaksikan oleh Rasulullah s

Rasulullah sbersabda tentang keutamaan mereka :

قَالَ النَّبِيُّ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏خَيْرُكُمْ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Sebaik-baik kalian adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi’in), kemudian orang-orang setelah mereka (tabi’ut tabi’in)[1]

Keutamaan ini dikarenakan segala kebaikan yang ada pada diri mereka, dan di masa mereka kelompok-kelompok sesat belum menampakkan permusuhan dan belum menguasai kaum Muslimin sebagaiman terjadi sesudah mereka tiada.

Berarti yang dimaksud salaf menurut tinjauan sejarah adalah para sahabat Nabi, tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

  1. BATASAN MANHAJI

Adapun batasan manhaji adalah orang-orang yang konsisten memegang prinsip-prinsip Al Qur’an dan As Sunnah, mengutamakan prinsip tersebut di atas prinsip-prinsip akal manusia dan mengembalikan semua permasalahan yang diperselisihkan kepada keduanya, berdasarkan firman Allah y

فَإِن تَنَـٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍۢ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۚ ذَ‌ٰلِكَ خَيْرٌۭ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Kemudian jika kalian berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasulullah (As Sunnah) jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya” (QS An Nisa 4:59)

Inilah keistimewaan yang dimiliki oleh mereka (Ahlus Sunnah Wal Jama’ah). Karena kelompok-kelompok yang menyelisihi mereka dengan berbagai macam bentuknya adalah yang tidak konsisten di atas manhaj (jalan) ini.

Kelompok-kelompok yang lain menolak sebagian hadits-hadits, walaupun hadits tersebut shahih, dan mentakwilkan (menyimpangkan) ayat-ayat yang sudah jelas dengan menyangka bahwa semuanya bertentangan dengan akal sebagaimana terjadi pada ayat-ayat dan hadits-hadits yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah y

Dan tidak ada yang menetapkannya secara dhahir dan menafikkan tasybih (penyerupaan) kecuali ulama Salaf dan orang-orang yang mengikuti mereka

Allah y berfirman

وَٱلسَّـٰبِقُونَ ٱلْأَوَّلُونَ مِنَ ٱلْمُهَـٰجِرِينَ وَٱلْأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحْسَـٰنٍۢ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّـٰتٍۢ تَجْرِى تَحْتَهَا ٱلْأَنْهَـٰرُ خَـٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًۭا ۚ ذَ‌ٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar” (QS At Taubah 9:100)

Orang-orang yang telah dijelaskan (dalam ayat di atas) dengan sifat-sifatnya adalah Salafush Sholeh. Adapun orang-orang (generasi) setelahnya dan menempuh jalan yang ditempuh mereka maka disandarkan kepada mereka dengan huruf (ي), nisbat menjadi salafi (سلفي)

Adapun orang-orang yang datang setelahnya dan tidak mengikuti jalan mereka, maka mereka adalah khalaf (خلف) dan mereka bangga dengan keadaan yang demikian itu. Mereka memisahkan jalan mereka sendiri dari jalan salaf, khususnya dalam menetapkan sifat-sifat Allah y

Bukti kongkrit yang demikian itu ada dalam tulisan-tulisan mereka yang menyatakan bahwa jalannya salaf adalah aslam (lebih selamat) dan jalannya khalaf adalah a’lam (lebih berilmu) dan ahkam (lebih lurus). Tulisan ini dan kebatilannya sangat masyhur.

Dengan adanya tulisan ini adalah sebagai bukti pengakuan orang-orang khalaf bahwa mereka bukan di atas jalan salaf, dan bahwasanya jalannya khalaf lebih banyak ilmu dan lebih lurus. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah telah membantah perkataan ini dan menetapkan bahwa jalan salaf adalah menghimpun segala sifat-sifat yang baik. Maka dari itu jalan mereka adalah aslam (lebih selamat), a’lam (lebih berilmu), dan ahkam (lebih lurus)[2]

(Dinukil dari Adwa’un ‘ala Kutubis Salafi terjemahan Indonesia Kajian Bagi Pemula Berkenaan dengan Salaf, Karya Asy Syaikh Muhammad bin Rabi’ bin Hadi Al Madkhali, diterbitkan oleh Pustaka Sumayyah)


[1] Shahih Al Bukhari, Kitab : Asy-Syahadah dari sahabat Imran bin Hushain f

[2] Lihat Kitab Al-Fatawa Al-Hamawiyyah Al-Kubra

Posted by: abuusamah88 | July 8, 2008

Dauroh Nasional Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Bismillahi Ar Rahmaan Ar Rahiim

Assalamu’alaykum wa Rahmatullahi wa Barakatuh

Kabar gembira untuk Ahlus Sunnah Wal Jama’ah di seluruh Indonesia dan sekitarnya. Insya Allah akan diselenggarakan lagi Dauroh yang akan mendatangkan para Ulama dari Tmur Tengah. Acara ini kembali diselenggarakan oleh yayasan Asy Syariah Yogyakarta.

Insya Allah Dauroh Ilmiyah ini akan dilaksanakan pada 29 Rajab-1 Sya’ban 1429 H atau 2-4 Agustus 2008 dan bertempat lagi di Masjid Agung Manunggal Bantul untuk yang ketiga kalinya. Dauroh ini Insya Allah akan mendatangkan beberapa masyayikh, yaitu

  1. Syaikh Al ‘Allamah Dr Muhammad bin Hadi al-Madkhali (Madinah, Saudi Arabia) *)
  2. Syaikh Dr Abdullah bin Abdurrahim al-Bukhari (Madinah, Saudi Arabia)
  3. Syaikh Dr Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul (Makkah, Saudi Arabia) *
  4. Syaikh Ahmad bin Umar bin Salim Bazmul (Makkah, Saudi Arabia) *
  5. Syaikh Abu Abdillah Khalid adz-Dzufairi (Kuwait)

*Dalam konfirmasi

Dauroh ini gratis dan terbuka untuk umum (Ikhwan/laki-laki. Untuk akhwat disediakan telelink)

Telelink untuk peserta wanita (Ummahat/akhwat) Insya Allah di

  • Tarbiyatul Aulad Ibnu Taimiyyah, Jl Palagan Tentara Pelajar, Sedan no 99 C RT 06/34, Dn Sedan, Ds Sariharjo, Kec Ngaglik, Sleman 55582
  • TK/Ma’had Ar Ridho Putra, Jl Parang Tritis Km 6, RT 6 RW 6, Dn Dagaran, Kel Bangunrejo, Kec Sewon, Bantul
  • Tahfizh Putri, Ma’had Al Anshar, Dn Wonosalam, Ds Sukoharjo, Kec Ngaglik, Sleman
  • TK Ar Ridho Putri, Galagahsari UH IV/538 RT 21/RW 05 Kel. Warung Boto, Yogyakarta 55164
  • Tahfizh Ar Ridho Putri, Bedok RT 5 RW 25 No 22, Trihanggo Gamping, Sleman

Informasi selengkapnya, hubungi Yayasan Asy Syariah :
Alamat : Jl Godean Km 5, Gg Kenanga 26B, Patran RT 1/RW 1, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY
Email : redaksi @ majalahsyariah.com, daurah @ salafy.or.id
Telpon : +62 274 626439, +62.813 28078414, +62.274 7170587

Insya Allah disiarkan lewat Paltalk, room Religion & Spirituality – Islam – Salafiyyin, nick name salafiyyin

Wassalamu’alaykum wa Rahmatullahi Wa Barakatuh

Older Posts »

Categories